Saya sudah lama sekali mengidam-idamkan papan tik mekanik. Kebetulan bulan lalu saya berulang tahun dan saya jadikan alasan untuk menghadiahi diri sendiri. Akhirnya terpilihlah dua benda : jam tangan Casio F91W yang mungil dan papan tik mekanik Vortex Core.

Apa perbedaan papan tik biasa dengan papan tik mekanik? Papan tik biasa yang banyak digunakan sekarang ini disusun oleh beberapa lembar membran dan setiap tombolnya terdapat karet berbentuk kubah (dome). Model seperti ini tidak tahan lama karena karet bisa rusak oleh kelembapan yang kurang tepat. Mengetik di papan tik dome juga kurang akurat, ada saatnya tombol sudah ditekan namun input tidak masuk. Kita tidak mendapat jaminan kepastian, apakah input karakternya benar-benar masuk atau tidak.

Papan tik dome, gambar dari Wikipedia.

Sementara pada papan tik mekanik, setiap tombolnya disokong oleh 1 unit mekanis. Papan tik mekanik memiliki tekanan dan suara klik yang khas. Suara klik tersebut (terutama untuk switch Cherry MX Blue) bisa menjadi jaminan bagi pengetik bahwa input karakter sudah masuk sehingga mengurangi saltik dan juga membuat pengetik menyadari saltiknya lebih cepat. Unit-unit mekanis ini juga berumur panjang. Jika satu rusak, kita cukup menggantu yang rusak saja.

Papan tik mekanik sendiri punya banyak varian switch (jenis tombol mekanis), seperti buckle spring (saya pernah menggunakan papan tik jenis ini waktu masih SMP, keluaran IBM), Cherry MX, Mathias dan lain-lain. Cherry MX sendiri punya beberapa varian dengan tekanan, suara dan tactile feedback yang berbeda-beda. Varian Cherry MX yang paling digemari Touch Typist (sebutan bagi pengetik yang sudah mengenal posisi huruf dan tidak melihat ke papan tik saat mengetik) adalah Cherry MX Blue. Penggemar permainan komputer (gamer) punya varian switch favorit yang lain.

Cherry MX Blue Switch, gambar dari Wikipedia.

Switch Cherry MX Blue inilah yang saya pilih saat membeli papan tik mekanik. Papan tik yang saya pilih adalah Vortex Core, seri terkecil (40%) keluaran Vortex di samping Vortex Race dan Vortex POK3R. Saya memilih ini karena suka sekali dengan ukurannya yang minimalis dan sederhana, namun kemudian menyadari ada satu hal yang membuat pilihan saya kurang tepat (akan saya ceritakan nanti).

Saat barangnya datang, saya cukup senang dengan paket kardusnya. Mewah, elegan dan sederhana. Isinya terdiri dari papan tik itu sendiri, kabel micro USB, dan selembar dokumentasi yang dilipat. Papan tiknya sangat mungil dan selalu berhasil memperbaiki mood saya saat saya melihat ke arahnya. Tombol-tombolnya terdiri dari 4 baris dan ada 2 tombol spasi. Mengapa bisa dipangkas sampai sekecil ini? Vortex Core mengandalkan banyak sekali tombol pintas untuk mengakses input di luar alfabet. Layer fungsi berwarna biru yang aksesnya dibantu oleh tombol Fn dan layer simbol berwarna merah yang dibantu oleh tomol Fn1. Butuh waktu bagi saya untuk membiasakan diri menggunakan pintasan-pintasan ini. Apa lagi, pekerjaan saya memrogram komputer dan membutuhkan akses mudah ke tombol simbol. Kira-kira saya menghapbiskan waktu 2 minggu untuk menguasai penggunaan papan tik ini.

Vortex Core, gambar dari dokumentasi pribadi.

Vortex Core adalah papan tik programmable, artinya tombol-tombolnya dapat diprogram ulang sesuai kebutuhan. Kita bisa memrogram ulang tombol capslock menjadi backspace, misalnya. Memrogram ulang tombol di Vortex Core dilakukan langsung di papan tiknya, tanpa bergantung ke perangkat lunak yang terpasang di komputer. Sayangnya, Vortex Core tidak fully programmable, tidak semua tombolnya bisa diprogram ulang. Vortex Core menyediakan 3 layer untuk di program ulang. Pada layer 0 (layer asli), tombol tidak dapat di program. Saya langsung memrogram ulang layernya sebagai berikut :

  • Layer 1, beberapa tombol menyesuaikan untuk Colemak, untuk sistem operasi yang sudah disetel Colemak
  • Layer 2, semua tombol disesuaikan ke Colemak, untuk sistem operasi yang masih QWERTY dan saya menginginkan mengetik Colemak tanpa harus mengganggu setelan sistem operasinya
  • Layer 3, saya biarkan kosong untuk cadangan.

Yang saya lakukan setelah memrogram tombol adalah membongkar semuanya, karena penasaran dalemannya seperti apa, lalu menyusun ulang tombol-tombolnya sesuai keinginan saya. Jenis tombolnya adalah plastik ABS, kompatibel dengan Cherry MX dan sangat mudah dilepas pasang. Kekurangan rancangan tombol Vortex Core adalah beberapa tombolnya berukuran tidak lazim. Jadi, jika saya berkeinginan mengganti semua tombolnya dengan warna lain, itu tidak mungkin karena tombol-tombol (keycaps) yang dijual di pasaran internet tidak memiliki ukuran-ukuran tombol yang tidak lazim tadi.

Selama pengujian dan pemakaian sehari-hari, saya merasa sangat nyaman dengan papan tik ini. Awal-awalnya butuh penyesuaian dan kecepatan mengetik saya berkurang. Namun kurang dari sebulan, saya bisa mencapai 90WPM untuk Bahasa Inggris dan 120WPM untuk Bahasa Indonesia. That feeling…

Satu hal yang membuat saya menyadari bahwa Vortex Core ini bukan pilhan yang tepat adalah ukurannya terlalu kecil untuk diletakkan di atas komputer-komputer jinjing saya (Thinkpad X1 Carbon, Thinkpad X220, MBA 11” 2013). Massa dari papan tik ini cukup berat dan langsung menekan tombol di papan tik laptop saat diletakkan di atasnya. Posisi yang tidak mengganggu adalah di atas touchpad, namun posisi ini sangat tidak nyaman untuk lengan.

Saya berencana memodifikasi case papan tik ini ke depannya agar dapat diletakkan di atas papan tik laptop manapun.