Peluit itu saya biarkan di saku saya, tidak saya gunakan hari ini. Nafas saya tidak kuat lagi. Bisa-bisa saya muntah darah kalau saya memaksakan diri. Saya tidak tahu saya sedang sakit apa sekarang ini. Orang miskin macam saya tidak patut ke rumah sakit. Kok? Tidak cukup uang. Tidak pula saya bertanya kepada orang-orang, dan bila ditanya, saya bilang, ah, batuk-batuk biasa.

Jadi begini saya menghidupi anak-anak saya. Memang mereka tidak sekolah, tidak berpakaian bagus, tidak punya tempat tinggal yang layak, tapi mereka hidup. Hidup dari tangan saya, hidup dari jalanan, hidup dari sampah plastik, hidup dari umpatan-umpatan yang dilontarkan orang-orang (jika anak saya mencuri sesuatu dari mereka).

Menjadi juru parkir sebenarnya macam bermain tahta, macam tuan tanah. Saya berdiri di atas teritori saya. Semua kendaraan baik roda dua atau roda empat adalah milik saya ketika mereka diparkirkan di sini. Dan rupiah mengalir begitu saja, biasanya stabil. Tugas saya sederhana, adalah merapikan barisan kendaraan, membenarkan arah hadapnya ke jalan, menutupi sadel kendaraan roda dua dengan bekas-bekas kardus (jika masih ada), mengarahkan sopir mobil agar memarkirkan mobil mereka dengan benar (padahal sebenarnya sebagian besar sopir tidak membutuhkan saya), mengarahkan pengendara saat mereka meninggalkan tempat parkir. Saya tinggal menunggui pengendara mengeluarkan uang dari dompet atau saku mereka, atau kalau tidak, saya paling banter hanya mengumpat. Mudah. Tapi melelahkan karena terik matahari.

Kalau wilayah saya dimasuki tukang parkir lain, saya tidak rela. Biasanya saya bertengkar dan membuat kesepakatan-kesepakatan. Tapi sedari dulu saya tidak pernah pindah. Saya selalu bertahan. Tetap di sini wilayah saya, di depan supermarket kecil yang ramai. Dan jubah kebesaran saya, warna oranye terang, yang darinya saya memperoleh pengakuan semu.

Tapi mungkin saya besok mati, karena sakit yang tidak kunjung sembuh ini.


Pagi itu saya bilang ke anak-anak saya, bahwa saya mau istirahat sepanjang hari ini, dan besoknya saya benar-benar mau mati, tidak berdaya.

Saya dibaringkan di gubuk triplek kediaman saya. Tubuh saya lemah, hanya bisa menggerakkan kepala dan berkata pelan.

“Kamu-kamu cari plastik sana, jangan diam di sini saja.” kata saya.

Anak-anak saya, Paijo dan Paimin, tak bergeming.

Sedihkah mereka? Sepatutnya mereka benci pada saya karena mebiarkan mereka hidup sekeras ini. Tapi baru kali ini saya melihat kesedihan di mata mereka karena saya sekarat.

“Pergi. Pergi.”

Alih-alih meninggalkan saya, Paijo, yang bungsu, berdiri dan mengambil rompi oranye kesayangan saya. Saya terkejut. Karena saya tidak kuat teriak, saya pelototin dia. “Letakkan itu,” mata saya memberikan isyarat. “Saya mau jadi tukang parkir, Bapak” kata Paijo. Belum saja saya menjawab, Paimin sudah bangkit merebut rompi itu dan berkata kasar, “Biar saya, biar saya yang pakai ini!”

Kemudian anak-anak saya bertengkar hebat, saling jambak, saling pukul, saling gigit. Saya tidak bisa melerai. Lama sekali baru mereka selesai karena kelelahan. Paimin sudah menggenggam sebagian besar gundukan kain itu, tapi masih ada jari-jari Paijo menggelayut di ujung lain.

“Sini, bawa sini.”, kata saya pelan.

“Tidak. Bapak mau mati, ini warisan saya,” kata Paimin lancang.

Ingin saya gampar dia. Tapi dia memang benar, dia berhak.

“Istirahatlah, Pak, “ katanya. Saya meram.