Ditulis berdasarkan kisah nyata dari seorang kawan.

“Gol gol gol, ale ale ale”,

Kamu ingat potongan lagu itu. Sepak bola dan 1998. Kamu jadi ingin tertawa mengingat-ingat betapa banyak energi yang kamu miliki saat masih kecil dulu. Kamu bisa berlari kesana kemari, menendang bola, menyikut temanmu, berteriak lepas. Sampai sore. Sampai petang.

Namun sebelum semua itu, kamu menggeser lembar ingatan beberapa tahun ke belakang. Ketika kamu masih bocah laki-laki yang baru masuk SD. Ketika kamu masih merengek-rengek agar Ibumu tetap tinggal di sekolah selama kamu belajar. Ketika kamu belum punya keberanian untuk berteman dengan siapa pun di sekolah barumu. Di tahun-tahun pertama, kamu bukan anak populer dan tidak ada yang mau repot-repot menyapamu.

Kamu ingat semua itu namun tidak ingat bagaimana kamu bisa berkenalan dengan Ning, anak Ibu guru di sekolahmu. Pintar (tentu saja), baik dan bercita-cita menjadi guru seperti Ibunya. Kamu benar-benar tidak ingat kapan pertama kalinya kamu berinteraksi dengan Ning. Yang kamu ingat, kamu selalu menunggunya setiap pulang sekolah, belajar dan bermain bersama, menemaninya sampai Ibunya selesai mengajar.

Ning selalu juara kelas namun tidak keberatan belajar bersama dengan dirimu yang otaknya tidak terlalu bisa dibanggakan. Ning energik dan asyik diajak bermain. Ular tangga, monopoli, congklak, bekel (kamu tahu yang ini permainan anak perempuan, tapi kamu tetap melakukannya demi bisa tetap berteman), berlari-lari, apa saja. Kadang-kadang, kamu bersikeras lari pulang ke rumah hanya untuk mengambil alat main. Saat-saat itu adalah saat-saat yang paling berharga. Saat dimana kamu bisa bertemu dengannya lebih lama. Di lain waktu, kamu sulit menemukannya karena Ning berbeda kelas denganmu.

Seiring waktu berjalan, kamu memiliki beberapa teman lagi, namun tidak ada yang sedekat Ning. Beberapa teman-teman laki-lakimu mulai mengata-ngataimu. Mengatakan kamu banci dan sebagainya. Tentu saja kamu marah, tapi kamu tidak melakukan apa-apa saat itu.

Ning. Kamu mengalami beberapa kebahagiaan dan kesedihan selama mengenalnya.

Kebahagian pertama adalah saat di tahun berikutnya, kamu akhirnya satu kelas dengan Ning dan diajar langsung oleh Ibunya Ning. Kamu menjadi lebih sering belajar bersama. Kamu membenci matematika. Tidak, kamu membenci semua mata pelajaran. Namun dengan Ning, kamu mencintai lagi semua mata pelajaran itu. Apakah kamu bertambah pintar? Rasanya tidak, kamu kurang yakin.

Ketika sekolahmu mengumumkan seleksi cerdas cermat untuk mewakili sekolah di lomba kecamatan, Ning ikut. Kamu tahu dirimu tidak cukup pintar (meskipun sering belajar bersama Ning) namun kamu ingin ikut menyertai Ning. Jadi kamu merengek lagi ke Ibumu dan memintanya membantumu memahami semua pelajaran-pelajaran yang memusingkan ini.

Ibumu tentu saja terheran-heran, mendapati anaknya yang biasa-biasa saja tiba-tiba bersikeras ingin tahu bagaimana berhitung cepat, menghafal nama-nama pahlawan atau memahami fisika sederhana. Ibumu mengabulkan dan keesokan harinya, waktu-waktu subuhmu dipenuhi oleh buku-buku, kertas-kertas dan omelan Ibumu. Kamu benar-benar bekerja keras untuk bisa lolos seleksi dan mewakili sekolah serta menyembunyikan usaha-usaha ini dari Ning.

Kebahagiaan kedua adalah saat namamu tertulis sebagai salah satu dari 3 orang yang mewakili sekolah, bersama Ning dan satu orang lagi yang kamu lupa namanya siapa. Kamu langsung berlari pulang dari sekolah, menemui Ibumu dan memeluknya. Untuk pertama kalinya Ibumu menangis bangga atasmu (padahal ikut lomba saja kamu belum).

Di minggu-minggu perlombaan, Ibumu bersikeras mengantarmu langsung ke tempat lombanya di kecamatan, yang cukup jauh dari tempat tinggalmu. Ibumu menyaksikan sendiri bagaimana kamu berjuang bersama Ning dan temanmu satu lagi yang (maaf) kamu masih lupa namanya.

Kalian menang, menang, dan menang lagi sampai 4 besar, lalu kalah. Mereka menyebutnya juara harapan namun kamu tidak mengerti maksudnya. Kalian bertiga menangis meskipun guru-gurumu bilang ini sudah cukup bagus untuk pengalaman. Itu kesedihanmu yang pertama. Kamu merasa kamu mengecewakan Ning.

Ning bilang, dia ingin belajar bersama lebih giat lagi agar bisa mengalahkan semua sekolah tahun depan. Dan hari-harimu yang bersemangat pun kembali lagi, meskipun masih ada gangguan-gangguan minor (misal dikatai, “Hei Bencong! Mainnya sama cewek mulu!”). Kamu tetap bertahan, setidaknya sampai kelas 4, saat dimana kesedihanmu yang kedua datang.

Ibunya Ning dipindahtugaskan ke kota lain dan Ning juga akan ikut pindah tempat tinggal dan sekolah. Kamu tidak bisa membayangkan hal itu. Ning memintamu untuk ikut serta pindah sekolah dan saat kamu meminta hal tersebut ke Ibumu, Ibumu kembali terheran-heran. Hanya saja kali ini ia tidak mengabulkan permintaanmu.

Kamu menangis.

Hari-harimu berubah. Tidak ada lagi Ning di teras depan kelas pada jam-jam pulang sekolah. Tidak ada lagi belajar atau bermain bersama, tawa senda gurau. Tidak ada lagi ambisi-ambisi tentang mengalahkan semua sekolah sekecamatan. Nilaimu turun. Perilakumu menjadi nakal. Kamu mulai berteman baik dengan beberapa teman laki-laki. Mulai pandai bermain sepak bola. Mulai menjadi anak laki-laki seperti pada umumnya.

Kebahagianmu yang ketiga adalah ketika kamu hampir melupakan Ning dan temanmu bercerita bahwa dia sekarang les privat dengan Ibunya Ning, yang tempatnya lumayan jauh. Kamu ingin les juga di sana agar bisa bertemu Ning dan meminta hal tersebut ke Ibumu. Ibumu tidak mengabulkan dan bilang ia sendiri bisa mengajarimu seperti dulu jika kamu mau. Namun kamu tidak putus asa. Kamu menulis surat dan menitipkan ke temanmu.

Meskipun kamu tahu temanmu akan membacanya juga (meski telah diteriaki, “Awas, jangan dibaca!”), kamu tidak keberatan. Yang penting selembar (atau kadang-kadang 5 lembar) kertas itu sampai di tangan Ning. Kalian saling surat menyurat selama beberapa bulan dan kamu mendapat cerita-cerita dari Ning, hal baik maupun sedih. Ning tidak punya banyak teman di sana dan lebih sering menyendiri. Semangatnya untuk mewakili sekolah sudah tidak seperti dulu lagi karena ia masih rindu sekolah yang lama. Yang tidak berubah, prestasi Ning di kelas masih seperti dulu.

Kesedihan berikutnya adalah saat kamu naik ke kelas 5, dimana temanmu tidak lagi les dengan Ibunya Ning dan kamu kehilangan kontak (lagi). Tidak ada lagi surat menyurat, tidak ada lagi kertas-kertas yang kamu nantikan kehadirannya.

Maka suatu hari kamu bertanya ke temanmu, dimanakah rumahnya Ning?

Jauh.

Kamu kelas 6, anak laki-laki yang punya banyak energi dan memutuskan untuk mengkayuh sepedamu ke kota sebelah, mengunjungi Ning. Beberapa teman-temanmu menyertaimu, mengkayuh sepeda sejauh 20 kilometer, melawan terik dan melelehkan peluh. Namun saat kamu hampir sampai dan melihat Ning (sedang bermain lompat tali bersama teman-temannya) dari kejauhan, kamu berhenti.

Kamu hanya diam mengamati selama beberapa saat. Ketika teman-temanmu bertanya apakah kamu ingin menyapa Ning, kamu bilang tidak. Ini sudah cukup.

“Ayo kita pulang.”

Kamu masih ingat potongan lagu itu, dan saat itu kamu adalah kapten dari kesebelasan sepak bola SMP-mu yang akan bertarung dengan SMP lain. Demam persepakbolaan mendera banyak orang.

Kamu bukan lagi bocah kecil yang gemar merengek-rengek ke Ibumu dan hanya bermain bersama anak perempuan. Kamu beranjak remaja, tulang-tulangmu keras, larimu cepat, kamu pantang menyerah. Kamu kapten. Gol-gol yang dihasilkan timmu selalu dibalas oleh lawanmu. Penonton bersorak, lapangan menggema. Kamu sangat yakin akan memenangi permainan ini sebelum akhirnya kamu melihat sosok yang membuat dadamu berdegup lebih kencang dari yang seharusnya.

Meskipun kamu menghargai persahabatan dengan Ning, kamu berusaha tidak mengingatnya lagi atas beberapa alasan. Tadi, kamu merasa kamu melihat Ning di kelompok penonton pendukung lawan.

“Apakah Ning sekolah di SMP itu?”

“Ya”, jawab temanmu, “Tapi jangan pikirkan itu. Kita harus menang. Ayo!”

Namun kamu kalah. Ning mengalihkanmu. Ning membuatmu tidak fokus. Saat lawan-lawanmu bersorak dan kamu berlutut hampir menangis di dekat gawang, kamu melihatnya lagi dari jauh. Ning berdiri menatapmu tanpa ekspresi di tengah kerumunan yang sedang berbahagia atas kemenangan mereka.

Kamu bangkit dan mengejarnya. Kamu menerobos kerumunan dan mencari-cari. Kamu tidak berani bertanya kepada siapa pun. Kamu hanya terus menyibak kerumunan dan menyapu pandangan. Mencari wajah Ning.

Sampai kerumunan itu bubar, kamu masih tidak menemukannya. Kamu tidak pernah menemukannya lagi, sampai kamu beranjak dewasa dan bekerja di kota lain yang jauh. Sampai kehilangan yang lama itu perlahan memupuskan asamu untuk mencarinya. Itu adalah kesedihanmu yang terakhir.

Yang kamu dengar hanya kabar-kabar tipis, bahwa Ning sekarang menjadi seorang guru, secerdas Ibunya. Itu juga adalah kebahagianmu yang terakhir.