Saya sudah pernah membawa sepeda lipat di kereta (Jakarta - Yogyakarta), namun belum pernah dengan pesawat.

Minggu lalu saya ada keperluan mendesak dan harus pulang ke Lombok (sekarang berdomisili di Depok). Kepulangan sebelumnya tidak begitu nyaman dikarenakan (nyaris) menghilangnya angkutan umum (disebut Bemo) di Mataram dan mesti menyewa taksi untuk kesana-kemari. Oleh sebab itu, saya ingin membawa sepeda lipat. Dari penelusuran di internet, saya mendapat beragam informasi terkait cara membawa sepeda ke pesawat. Beberapa bilang perlu membungkus sepeda dengan tas khusus (harganya bisa sampai 800k), ada yang cukup diikat. Satu hal yang pasti, ban sepeda mesti dikempeskan untuk mencegahnya meletus karena perubahan tekanan udara di pesawat nanti.

Yang perlu disiapkan :

  • Kunci sepeda, untuk mengikat sepeda, paling murah harganya barangkali 25 ribu rupiah.
  • Pompa tangan portabel

Saya berangkat dari bandara Soetta (CGK) dengan pesawat Lion Air (PP dengan maskapai yang sama). Dari Depok, sepedanya dimasukkan ke bagasi bis Damri. Sempat khawatir bakal diminta perlakuan khusus untuk sepeda, namun ternyata tak seorang pun petugas yang menanyai saya terkait sepeda. Untuk sepeda yang tidak dibungkus tas atau kardus, petugask Check-in akan meminta kita untuk membungkusnya dengan plastik wrap (bayar 50k). Sebelumnya saya mengikat sepeda dengan kunci sepeda, agar mudah dibawa dan dibungkus. Kemudian ditimbang. Sepeda saya hampir 13kg, masih di bawah batas gratis 20kg. Saya tetap membawa helm sepeda ke kabin, menggantung di ransel saya. Semua lancar dan beres. Saat tiba di Lombok, sepedanya baik-baik saja. Tinggal robek plastik wrapnya, pompa bannya, lalu gowes.

Saya mengharapkan pengalaman yang sama di Bandara Internasional Lombok saat balik ke Jakarta, namun tidak terkabul. Jadwal dimajukan dan pemberitahuannya mendadak, mesin wrap-nya ada namun petugasnya entah kemana. Alhasil sepedanya dibawa ke bagasi tanpa dibungkus wrap. Sesampai di Jakarta, tape-nya lepas. Tapi tidak apa-apa, asal tidak sampai bengkok-bengkok.

Andai saja jadwal penerbangannya tidak dimajukan dan masih ada waktu untuk mencari petugas mesin wrap-nya. Perjalanan berikutnya? Saya akan berusaha tetap bawa sepeda lipat. :)