Sebelum memiliki Thinkpad X220 ini, saya sudah jatuh cinta dengan Thinkpad-thinkpad lain seri T dan W. Mereka mesin yang tangguh dan manis. Saya pertama kali melihat dan menyentuh X220 saat @winardiaris membawanya.

Darah saya berdesir…

Beli

Yang membedakan komputer ini dengan Thinkpad X220 lain adalah baterai 9 cell dan SSD 128GB. Saya mendapatkannya (2 bulan sebelum tulisan ini terbit) dengan harga Rp. 4.000.0000. Tidak murah, tetapi saya tetap mengambilnya karena sudah berkesempatan memegangnya beberapa kali, memastikan semua komponennya bekerja dengan baik tak kurang suatu apa. Engselnya masih kokoh, tidak seperti kebanyakan Thinkpad bekas yang biasanya sudah agak kocak/goyang. Kadang jaminan ada harganya.

X220 vs X230

Saya sempat bimbang antara X220 atau X230. Pembeda terbesar di antara mereka (dari X230) adalah prosesor 1 generasi lebih anyar, mini HDMI, keyboard ala Lenovo yang modern. Selebihnya nyaris mirip. Pilihan saya jatuh ke X220 karena papan tiknya. Saya mendambakan papan tik komputer jadul seperti yang dikenakan oleh X220. Bisa dibilang, ini generasi Thinkpad X terakhir yang menggunakan papan tik klasik.

Di reddit, saya pernah nemu artikel tentang retas piranti keras yang memungkinkan pemasangan papan tik klasik ke X230, tapi saya pikir saya akan tidak punya cukup waktu untuk bermain-main dengan itu.

Sistem Operasi

Saya langsung memasangnya dengan BlankOn Tambora (yang saat artikel ini ditulis, masih dalam tahap pengembangan, belum rilis final) karena memang niat awalnya memiliki komputer ini adalah untuk mendukung pengembangan BlankOn Installer di Tambora. Main-main BlankOn Installer di Macbook Air keluaran 2011 yang RAM-nya cuma 4GB benar-benar bikin ngurut dada, nyalain mesin virtualnya ganti-gantian.

Tidak ada konfigurasi khusus untuk X220, semua jalan mulus. Hanya ini :

$ cat /etc/udev/rules.d/10-trackpoint.rules
ACTION=="add", SUBSYSTEM=="input", ATTR{name}=="TPPS/2 IBM TrackPoint", ATTR{device/sensitivity}="250", ATTR{device/press_to_select}="1"

BIOS

BIOS-nya seru dan lengkap, tapi mengecewakan karena menerapkan whitelist. Jika kamu mencoba-coba mengganti wificardnya (misal supaya kompatibel untuk Hackintosh) dengan brand dan type tertentu, siap-siap saja kecewa. BIOS-nya perlu di-flash ulang untuk membuang whitelist ini, tapi saya kurang bernyali untuk itu.

Untuk yang paranoid, setiap piranti kecil-kecil ada switch-nya di BIOS. Misal kamu ingin mematikan webcam dari BIOS, itu bisa.

Port & Periperal

Port-port yang tersedia antara lain :

  • VGA
  • HDMI
  • PCMIA
  • USB ( 3 buah )
  • Audio out jack 3mm
  • SDCard Reader
  • LAN
  • Docking ( di bawah )

Selain itu ada tombol switch untuk Wifi. Cocok untuk peretas paranoid.

Untuk dalemannya, ada 1 slot kosong yang bisa dipasang salah satu dari perangkat ini :

  • Modul GSM 3G
  • MSata SSD

Slot RAM terdiri dari 2 buah.

Pandangan pertama

Papan tiknya benar-benar sempurna. Beberapa hurufnya sudah terkelupas, tapi itu tidak masalah buat saya yang sudah tidak lagi melihat papan tik saat mengetik. Saya tidak suka papan tik Lenovo yang baru. Entah bagaimana mereka melakukan riset untuk menciptakan inovasi itu, saya masih merasa itu inovasi yang salah. Mereka punya beberapa argumen untuk mendukung kesimpulan bahwa papan tik barunya lebih ergonomis. Tapi menurut jari saya, tidak.

Permukaan atas lid X220 dilapisi oleh semacam plastik lunak. Lapisan yang paling saya benci, yang biasanya dipakai di beberapa gawai ponsel pintar murah. Lapisan ini bila tergores oleh kuku akan meninggalkan bekas.

Ada komentar pengguna Thinkpad yang bilang bahwa lapisan lid ini sengaja dibuat demikian untuk menunjukkan usia penggunaan dari Thinkpad itu sendiri. Seiring waktu, akan ada makin banyak goresan dan pengguna bisa berbangga akan hal itu. Aneh banget. Tentu saja alasan ini tidak bisa diverifikasi. Tapi anggap saja benar, jadi saya tidak berniat menempel apa pun ke permukaan ini. Biarkan saja kosong dan baret-baret.

Hal lain yang mengecewakan selain lapisan lid adalah touchpad-nya. Permukaan touchpadnya berbintik-bintik dan pergerakan posisi kursor sangat tidak akurat. Sering loncat kesana kemari dan suka bergetar sendiri meskipun jari tidak bergerak di atas touchpad. Entah disebabkan oleh permukaannya yang bintik-bintik itu atau karena piranti kerasnya yang buruk. Atau… ataukah opini ini timbul karena terlalu lama menggunakan trackpad-nya Apple yang terlalu sempurna?

Namun kemudian saya membiasakan diri dengan trakcpoint dan sudah tidak ambil pusing lagi dengan touchpad. Saya menonaktifkan touchpad dari BIOS dan malah berharap touchpad ini enyah dari komputer saya. Biarkan saja polos seperti Thinkpad X200.

Setelahnya? Setelahnya saya berharap ada trackpoint yang tumbuh diam-diam di tengah papan tik Macbook Air.

Sejujurnya, saya sudah jatuh cinta dengan trackpoint bahkan sebelum saya benar-benar terbiasa menggunakannya. Pertama kali saya menggunakan trackpoint adalah tahun 2004, saat saya masih SD, menggunakan komputer jinjing merek Toshiba milik tetangga. Setelah itu tidak pernah lagi sampai saya berkesempatan coba-coba di komputer Thinkpad milik @dotovr dan @winardiaris.

Upgrade

RAM-nya hanya 4GB, terdiri dari 2 keping 2GB PC 10600. Saya menggantinya dengan 1 keping 8GB 12800. Sebelumnya sempat bimbang RAM ini tidak didukung (resminya hanya mendukung maksimal PC 10600) dan mungkin saja merusak mainboard. Setelah saya coba, tidak terjadi masalah apa pun. Saya tidak akan menambah RAM lagi sampai benar-benar perlu.

Dibongkar

Saya sempat membongkar mesin ini dan luar biasa puas dengan tata cara perakitannya. Sangat mudah. Ada dokumentasi resmi dan lengkap tentang ini dari Lenovo.

Penggunaan keseharian

Saya lebih nyaman mengetik dengan Thinkpad di tempat umum, di angkutan umum (angkot, bis), di pesawat, di kereta. Sementara kalau dengan Macbook sering merasa tidak aman. Tapi Macbook Air lebih ringan, apa boleh buat.

Saya berencana meletakkan Thinkpad X220 ini di kamar, untuk urusan-urusan yang rada berat dan serius, jarang dibawa-bawa. Untuk aktivitas di luar kamar, pakai Macbook Air. Tapi kenyataannya dua-duanya saya bawa terus. Bikin tas saya jadi berat dan sobek. Mudah-mudahan nanti setelah punya docking, jadi jarang bawa-bawa Thinkpad lagi.

Sudah mainstream

Mendadak banyak orang-orang di sekitar saya memiliki Thinkpad seri X220/X230 juga. Saya mendengar cerita bahwa tahun ini perusahaan-perusahan yang dulunya menggunakan Thinkpad untuk standardisasi perangkat keras, memperbarui standarnya ke seri yang lebih baru, mungkin X240 atau X250. Mendadak banyak yang menjual Thinkpad-thinkpad keluaran tahun 2010-2012 di forum-forum jual beli di internet.

Bisa jadi, X220 yang saya pegang sekarang adalah bekas penggunaan karyawaan suatu perusahaan selama bertahun-tahun, diletakkan di meja kantor dan tidak pernah dibawa-bawa. Itu sebabnya permukaan lid-nya masih mulus (?).

Kesimpulan

Thinkpad adalah mesin yang hebat, dambaan banyak engineeer di dunia. Namun sejak diakuisisi Lenovo, Thinkpad dipecah ke beberapa seri lagi. Pilihlah hanya seri X, T atau W. Selain itu, terutama E (Edge) tidak bagus-bagus amat dan tidak mengikuti filosofi Thinkpad yang sebenarnya.

Jika ada yang bertanya ke saya, sebaiknya mereka beli komputer jinjing apa, jawaban saya adalah Thinkpad (seri X, T atau W) atau Macbook. Dell? No.

Update

Berikut beberapa keterangan mengapa X220 menjadi salah satu yang terfavorit di komunitas Thinkpad :

  • Generasi X terakhir dengan full power 35 watt. Mesin ini lebih panas, dengan kata kasar, lebih cepat dari penerusnya (15/17 watt). X220 masih lebih cepat daripada T440.
  • Generasi Thinkpad terakhir dengan papan tik 7 baris.
  • Dibeli oleh perusahaan-perusahaan besar dalam jumlah banyak, mudah ditemukan di ebay dalam kondisi baik dan murah.
  • Kinerja baterai baik.

Sumber : https://www.reddit.com/r/thinkpad/comments/3rbisx/why_thinkpad_x220_x230_is_so_much_loved/