Jika sebelumnya saya pernah mengalami pendakian yang buruk, maka tulisan ini akan diberi judul ‘Pendakian Terburuk II’.

Seperti catatan perjalanan sebelumnya, untuk mencegah hype yang tidak perlu, saya tidak akan menyebut destinasi perjalanannya. Hint-nya, gunung ini adalah salah satu dari sekian banyak gunung di Jawa Barat, dinamai dengan prefix ‘Ci-‘, memiliki tinggi sekitar 2600 - 3000 MDPL. Kali ini saya juga tidak membawa barang elektronik. Tidak kamera, tidak ponsel. Gambar dibawah ini diambil oleh teman saya.

Kesalahan-kesalahan pada pendakian ini saya tandai dengan nomor. Mudah-mudahan ini bisa menjadi pelajaran untuk pendakian berikutnya.

Rencana pendakian ini dimulai dari beberapa bulan sebelumnya. Beberapa kawan di kampus yang sering sekelas (mereka cukup kompak) menawarkan ajakan mendaki ke gunung ini. Biaya 300k per orang. Mereka memasang pamflet di mading kampus, mengajak siapa pun yang berminat. Di sini saya sempat berbeda pendapat dengan mereka. Menurut saya, semakin sedikit orangnya, semakin baik dan mudah diatur. Menurut mereka, semakin ramai semakin seru. Akhirnya saya manut saja dan bilang akan mempertimbangkan kembali jika totalnya menjadi lebih dari 12 orang.

Namun ternyata totalnya jadi 16 orang dan saya jadi misuh-misuh. Saya membayarkan satu orang karena ybs ingin ikut tapi tidak punya cukup dana. Teman-teman kampus ini sebelumnya pernah melakukan pendakian bersama-sama (Gn. Gede, Gn. Papandayan), jadi saya cukup percaya dengan kesiapan dan pengalaman mereka. Kecuali bahwa sebagian dari mereka tidak punya perlengkapan yang memadai dan esential seperti sleeping bag, keril dan lainnya. Saya meminjamkan beberapa dari teman saya yang lain dan sisanya kami sewa.

Seluruh perjalanan ini dimulai dari Jumat 12 Februari 2016 dan berakhir Senin 15 Februari 2016. Kami berkumpul di rumah salah seorang peserta, packing di sana. Salah seorang yang ditugaskan menyiapkan trash bag untuk lapisan dalam keril ternyata membeli ukuran yang salah, nyaris berukuran 4 kali lipat dari yang dibutuhkan. Saya sendiri sudah membeli 10 trashbag, namun karena yang lain bilang akan membeli dari uang kas, saya hanya membawa 1 untuk diri saya sendiri. Alhasil, sebagian besar dari kami tidak melapisi tas carier-nya dengan trash bag (No. 1).

Kami berangkat agak terburu-buru, mengejar Bis di Rambutan. Seseorang (yang kesehariannya bekerja sebagai pilot dan memiliki jadwal yang padat) terlambat mengejar bis dan menyusul secara terpisah. Kami cabut dari Rambutan pukul 23.00, Tiba di kota tujuan pada hari Sabtu pukul 04.00, diturunkan di sebuah SPBU. Di sini kami sarapan sedikit, dua nasi bungkus + 1 potong daging ayam untuk 16 orang (tidak semuanya makan) (No. 2). Kami menunggui angkot yang akan membawa kami ke kaki gunung.

Angkot tiba sekitar pukul 05.30. Kami tiba di kaki gunung sekitar pukul 06.30. Beberapa dari kami membeli roti di warung untuk sarapan (tidak semua sarapan) (No. 2). Saya sudah mewanti-wanti untuk membagi orang-orang yang banyak ini ke beberapa tim. Namun saat briefing dan doa, pembagian tim ini tidak dibahas dan sepertinya tak seorang pun tertarik membahasnya (No. 3). Namun si M sempat bilang dia satu tim dengan saya, maka saya menitipkan sebagian bawaan tenda ke dia dan selalu tidak jauh dari dia saat mendaki.

Setelah mendaftar di Pos 1 (tempat kediaman ranger dan kita mendaftarkan diri), kami berangkat, dipimpin oleh si R. Seperti halnya saat saya memandang gunung Gede Pangrango pertama kali, saya merasa gunung ini pendek (takabur isshhh) (No. 4). Awal perjalanan diwarnai dengan aktivitas para petani palawija yang sibuk panen kol dan kentang, kebun palawija di kanan kiri. Trek awal adalah jalanan semen berpola yang cukup licin. Sampai Pos 2, kanan kiri masih saja terlihat kebun palawija, sampai-sampai saya jadi tidak sabar dan bertanya-tanya, “Kapan ini kita masuk hutan?”

Pos 2 adalah sebuah gubuk kecil bertingkat. Kami istirahat di sini dan memasak makan siang. Sayangnya, makan siang tidak dilakukan secara teratur dan bersama-sama. Begitu porsi A matang, semua berebut menyendok. Begitu seterusnya. Jadi tak seorang pun yakin apakah dia sudah cukup kenyang atau tidak. (No. 5). Saya sendiri makan dari ransum instan TNI (Nasi Bali Ikan) yang juga disendok secara random oleh beberapa orang.

Kemudian terjadilah musibah yang memaksa dua orang membatalkan pendakian. Seekor tawon menyengat salah seorang dari kami, persis di depan saya. Disengat di kelopak mata dan membuat wajah dan lehernya bengkak-bengkak tak keruan. Saya tidak menyangka dampaknya seserius itu. Sayangnya, kami menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mempertimbangkan ini dan itu. Akhirnya korban tawon dipulangkan bersama pacarnya pada pukul 15.00, diantar oleh seorang petani yang kebetulan sepeda motornya (sepeda motor ini dipreteli dengan keren, nanti saya ceritakan) ada di Pos 2. Kami tidak selalu waspada (No. 6).

Sekarang kami minus 2 alias ber-14. Kami siap-siap berangkat lagi karena sudah banyak waktu yang terbuang. Lanjut dari Pos 2, kami mulai memasuki hutan dan hati saya sudah semangat sekali. Gerimis turun sesekali dan saya beberapa kali pasang lepas jas hujan. Akhirnya saya memutuskan tidak akan memakai jas hujan sampai hujan benar-benar turun. Rencana awalnya, kami akan langsung mendaki terus sampai puncak. Namun karena waktu sudah berkurang cukup banyak karena musibah tawon, kami hanya akan mendaki sampai Pos 3, bermalam di sana, dan summit attack pada pukul 03.00 atau 04.00 pagi untuk mengejar sunset (dan mudah-mudahan cerah).

Namun Pos 3 tidak sampai-sampai dan karena kesalahan No. 5, sebagian besar dari kami mulai kelaparan, sementara Pos target belum tercapai. Saat itu sudah pukul 05.00. Saya tidak sabar dan mulai mendaki duluan. Saya berpapasan dengan rombongan pendaki lain dan bertanya seberapa dekatkah Pos 3. Mereka bilang, “Masih lumayan jauh”.

Saat itu hujan mulai turun secara teratur dan saya berada di tanah yang agak lapang. Jadi saya mengusulkan ke teman-teman agar istirahat di sini, bentangkan flysheet dan masak untuk makan, karena setengah dari kami tidak bisa menahan lapar. Beberapa membuka mie instan dan memakan mentah (No. 7). Konsekuensinya, kami akan jalan malam (nantinya, saya menyesal mengusulkan ini karena seseorang terkena hipo).

Kami menghabiskan waktu sekitar 70 menit di sini. Dua flysheet dibentangkan, keril-keril ditutupi ponco multifungsi yang bisa jadi flysheet. Hanya 3-4 orang yang sibuk mempersiapkan makanan, yang lain berdiam diri. Saya mulai khawatir ada yang tidak bisa menahan dingin karena berdiam diri. Akhirnya si J mengaku kedinginan karena pakaiannya basah (jujur seperti ini bagus!), jadi kami menyuruhnya melepas pakaiannya dan memakai jaket saya yang cukup tebal dan waterproof. Semua mulai memakai jaket dan jas hujan kecuali saya, hanya bermodal jas hujan tipis. Setelah semua selesai makan, kami berangkat lagi.

Saya mulai ragu, apakah sebaiknya meminta si J yang kedinginan tadi untuk mengeluarkan jaketnya sendiri dari kerilnya atau saya tetap tidak usah pakai jaket sampai merasa perlu sekali. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak pakai jaket dulu, saya takut bongkar-bongkar keril bakal buang-buang waktu lagi dan saya merasa bisa bertahan dari dingin jika saya bergerak terus (No. 8). Waktu itu hari sudah gelap dan hujan masih turun. Saya diminta berjalan paling belakang, oke.

Pola perjalanan mulai berubah. Setiap istirahat, selalu berlangsung lama (No. 9). Saya bilang tidak bagus beristirahat lama-lama dalam cuaca seperti ini. Jadi saya sering bertanya-tanya dengan tidak sabar, “Ini kenapa macet? Kenapa berhenti? Yang sakit siapa? Lanjut? Masih capek? Ini kenapa lama banget berhentinya?”. Ya ampun saya cerewet juga. Berjalan paling belakang sungguh membosankan. Rombongan ini mengular sepanjang 14 orang dan sulit mengecek orang di ujung sana. Saya berkali-kali menawarkan akan membawakan keril siapa saja yang tidak kuat, yang penting jangan diam lama-lama seperti ini.

————— Panic Mode ON —————

Perjalanan makin lama makin melambat dan saya mulai jengkel. Teman-teman mulai panik dan stres karena Pos 3 tidak kunjung terlihat. Akhirnya seseorang mengaku asma (mestinya dia tidak merokok) dan seorang lagi kakinya tidak sehat (entah terkilir atau apa, saya tidak dengar), rombongan terhenti. Kami beristirahat lama sekali dan ketika seseorang bilang, “Kita turun balik saja ke Pos 2”. Gila, saya mulai marah dan merangsek ke depan.

Dia beralasan, tak seorang pun dari kami (si R adalah satu-satunya yang pernah mendaki gunung ini, namun dari jalur yang berbeda) benar-benar tahu jalur pendakian ini, ketimbang lanjut namun tak pasti, lebih baik turun lagi sampai Pos 2. Logis, tapi…

Tapi Pos 2 itu sangat jauh. Sekarang gelap. Hujan. Trek terjal. Semua serba licin. Perlu berapa jam lagi?

Saya menawarkan solusi lain : biarkan saya dan seorang lagi (si R) berjalan di depan selama 15 menit, dengan 1 HT, tanpa keril (agar bisa jalan cepat). Sisanya istirahat di tempat itu. Jika dalam 15 menit kami berdua tidak menemukan Pos atau kabar gembira, kami akan kembali dan membicarakan solusi lain lagi. Ada yang menggumam keberatan tapi akhirnya pada setuju.

Saya mengingat waktu di jam tangan dan mulai berjalan berdua, sambil si R terus berkomunikasi dengan HT. Kami baru berjalan semenit sebelum akhirnya dipanggil lagi untuk kembali karena dari HT, mereka sempat mendengar si R berteriak “Ko, bukan lewat situ, bukan itu”. Mereka panik dan takut kami tersesat. si R balik, saya jadi tambah marah dan stres. Namun saya sempat melihat tempat yang cukup lapang tak jauh dari titik terdepan saat itu. Cukup untuk 2 tenda, atau bisa 3 tenda jika dipaksa dengan benar. Saya kembali ke mereka.

Saat seseorang membahas lagi soal solusi ‘kembali ke Pos 2’, saya tidak percaya. Saya sudah capek, yang lain pasti juga sudah capek. Kembali ke Pos 2 dalam cuaca hujan begini bisa menambah masalah. Jadi saya menawarkan ke yang lain : pergilah ke atas sebentar untuk melihat tempat lapang yang saya temui dan mohon pertimbangkan lagi. Rombongan dipecah, bagi yang masih kuat dan bersikeras turun, silakan turun. Yang sakit dan capek, tolong biarkan mereka beristirahat di tenda yang akan dibangun di tempat ini.

Tidak ada yang menyukai ide ‘rombongan dipecah’, jadi semua naik lagi untuk melihat. Setelah semua pada setuju, saya dan beberapa teman mulai membangun tenda di salah satu bidang tanah, yang lain membangun di bidang tanah yang agak atas.

Ini pertama kalinya saya membangun tenda Consina Magnum 4 saya di cuaca hujan. Sungguh tenda yang dirancang sangat tepat untuk kondisi seperti ini, karena outter layernya bisa tegak terlebih dahulu tanpa membasahi inner layer.

Saat tenda saya hampir selesai dibangun, saya mendengar teriakan keras sekali yang membuat jantung saya berdegup kencang, bikin suasana yang sudah panik jadi ekstra panik. si A terkena hipotermia. Dia sudah dikelilingi teman-teman, si RY menampar wajahnya agar dia bangun. Saya melepas buff dari kepalanya dan melihat matanya terpejam, dipenuhi genangan airmata. Gila. Ini pertama kalinya saya menyentuh langsung orang yang terkena hipotermia. Saya bilang, bawa ke tenda, tenda saya sudah jadi. Saya mondar-mandir nyariin kompor, gas dan nesting untuk memasak air. Tersandung sana sini. Setelah api menyala, saya diminta membangun tenda lain.

Sebelum itu, saya menengok sebentar ke tenda tempat si A ditangani. Kaosnya sudah dilepas dan badannya sedang digosok-gosok dengan minyak GPU dan dipeluk oleh dua orang yang bertelanjang dada (Gimana sih rasanya dipeluk-peluk cowok?). Saya tidak lihat langsung tapi katanya bola matanya terangkat ke atas, pupilnya tidak nampak. Gila, ini serius dia nyaris tewas.

Saya tidak lihat awal kejadian si A kena hipo, saya juga kurang percaya dengan hal-hal mistis seperti kesurupan, tapi katanya si A sempat ‘berpencak silat’ dan meninju wajah pacarnya sendiri, sebelum akhirnya jatuh pingsan.

Seluruh rentetan kejadian hipotermia ini tidak saya perhatikan dengan baik karena sibuk dengan hal lain. Padahal saya pengen lihat langsung, gejalanya kayak apaan, ditangani seperti apa dan lainnya. Dengar-dengar si RY cakap menangani orang yang kena hipo (tapi belum tentu saya kepengen dipeluk-peluk dia).

Kacamata saya pecah, entah terinjak atau apa.

Saya mau membangun tenda kedua dan menemukan tenda kedua tersebut dirangkai tidak benar, inner layernya tergenang air hujan, dan framenya dipasang pada posisi yang tidak tepat (frame pintu dipasang sebagai frame utama). (No. 10) Saya marah sekali dan membentak-bentak (Maaf ya). Tolol banget yang bikin inner layer tenda ini sampai basah begini. Si M bilang nanti keringkan saja pakai kanebo. Saya tidak mengolah pernyataan itu dengan baik, bodo amat. Entah kenapa saya dari tadi tidak bisa menahan emosi.

Seseorang menelepon ranger di bawah meminta bantuan.

Dengan panik dan cepat, kami mulai membangun tenda kedua, merek Rei. Selama membangun tenda, yang terpikir di kepala saya adalah, betapa miripnya tenda ini dengan tenda Lafuma Summertime 3/4. Setelah tenda jadi, saya cek dalamnya, parah banget. Genangan airnya banyak. Percuma semua. Kanebo gak ada gunanya. Saya minta tenda lafuma dikeluarkan tapi jangan sampai inner layernya basah. Dugaan saya benar, inner layernya cocok dipasang di sini. Pas banget. Inner layer-nya Rei saya biarkan tertumpuk di bawah. Ini kenapa brand-brand outdoor Indonesia selalu saling contek desain? Tapi ada untungnya, saling kompatibel. Tsah.

Saya bertanya-tanya ke teman-teman, “Si A gimana? Aman? Masih hipo? Melek gak?”

Katanya aman. Sudah oke. Teman-teman mulai mencoba membangun tenda ketiga dan beberapa bilang, biar saja kita berempat belas tidur bertumpuk-tumpuk di 3 tenda, yang penting tetap hangat dan bisa beristirahat.

————— Panic Mode OFF —————

Saat itu saya mulai menggigil kedinginan. Sudah tidak bisa saya tahan lagi, saya bertanya ke si J yang tadi saya pinjami jaket, apakah jaketnya masih kering, apakah jaket saya bisa dikembalikan.

Akhirnya jaket saya dikembalikan dan dia mengenakan miliknya sendiri. Badan saya mulai drop, saya diminta beristirahat di tenda. Saya tidak bisa gerak dan mikir lagi, kemudian saya tertidur.

Saya tidak ingat saya mimpi apa, pokoknya itu mimpi yang baik dan indah.

Saat saya terbangun lagi, yang pertama kali saya pandangi adalah atap tenda, yang pertama kali saya dengar adalah obrolan sayup-sayup dari tenda sebelah. Semua ingatan tentang kondisi yang kacau ini langsung merasuki pikiran saya, bikin saya stres lagi. Saya keluar untuk pipis sebentar dan melihat seorang ranger sedang mengobrol dengan si AM. Berarti keadaan terkendali. Saat itu pukul 02.00, cepat banget dia tiba sampai ke sini. Saya kembali ke tenda, menyadari bahwa ada 6 orang (termasuk saya) yang tidur bertumpuk-tumpuk di tenda 3/4, dan tidur lagi.

Kami setenda sempat terbangun lagi karena ada babi yang gaduh di luar, mencari makan dan merusak keril. Saya sempat diminta melirik dari pintu tenda, gila gede banget babinya, kayak kambing dewasa. Bodo amat, kami tertidur lagi karena terlalu lelah.

Saya terbangun lagi saat matahari sudah terbit. Teman-teman sudah bergerak dengan pelan, rasanya lega. Beberapa mulai memasak, si hipo A aman. Ranger sudah balik. Topik yang pertama kali saya dengar pagi itu adalah, tempat ini adalah Pos 4, Pos 3 sudah terlewat tanpa kami sadari tadi malam. Busyet.

Informasi tentang kondisi pos-pos yang sempit ini tidak kami perhatikan. Seharusnya saat di bawah, kami menanyai dulu kepada ranger tentang informasi-informasi penting seperti ini (No. 11). Berarti, pendakian tadi malam berangkat dengan asumsi bawah Pos 3 itu shelter yang cukup luas untuk bermalam. Kami salah besar.

Dan ternyata, si A pernah mengalami gejala serupa pada pendakiannya sebelumnya namun tidak diceritakan ke kami. Padahal informasi ini sangat penting untuk mempertimbangkan keputusan-keputusan agar bisa melindungi yang bersangkutan (No. 12).

Akhirnya semua sudah terbangun dan mulai merangkai tempat untuk makan bersama. Kami sudah mulai bisa bercanda. Tumben saya banyak tertawa. Cuaca agak cerah. Beberapa makanan sudah dilahap babi, plus 1 daypack sobek-sobek.

Kami makan besar. Sop wortel, kentang, daging, mie goreng, pempek, abon ikan, tempe teri, sop susu jagung, dan lainnya. Pokoknya kenyang!

Setelah kenyang, kami mulai packing dan bersiap-siap turun. Hati saya pundung karena gagal muncak. Tapi demi kebersamaan, pundung-pundungan begini mesti ditahan. Karena kepanikan tadi malam, sandal gunung saya hilang entah dimana. Biasanya saya turun gunung dengan sandal gunung untuk mencegah jempol kaki lecet.

Saat mulai turun, barulah saya dapat bayangan, seperti apa sifat jalur ini. Nanjaaaaaak mulu gak ada bonus landai-landainya. Sungguh gunung kecil yang menantang. Tidak ada yang spesial selama perjalanan turun kecuali tertawa-tawa tentang kejadian tadi malam. Meskipun itu termasuk perkara serius, ada beberapa bagian yang tidak bisa tidak ditertawakan. Dari Pos 2, si Hipo diangkut duluan mengunakan sepeda motor. Curang!

Setelah melapor di Pos 1 (terima kasih, ranger!), kami diangkut mobil pickup, kemudian diangkut angkot ke terminal, kemudian naik Bis jurusan Jakarta, kemudian angkot lagi ke rumah si J, tempat ngumpul sebelum perjalanan dimulai.

Demikianlah perjalanan ini berakhir. Sudah berapa kesalahan itu? Banyak bangat.

Utang muncak saya sekarang ada dua, Tambora dan gunung ini.