seperti engkau masih berdiri di tikungan jalan itu
sejangkauan mata sejangkauan asa
lekas lenyap begitu aku mengerjap
di atas tengkukku
angkuh sang langit cuma bilang, maktub maktub maktub
matari ketawa mengundang umpat
di bawah sandalku
bumi keras cadas sabar menjilat jasadku menanti jasadmu
di nafasmu nafasku
waktu bergulir berlari berdansa lupa urusan kita

kudengar kadang-kadang kau berang,
tapi tak pernah benar-benar bermaksud menghentikanku, bukan?
sudah kukirim pesan kemarin sore
hanya saja bulir-bulir hujan malu mengungkapkannya
atau kau tak lagi mendengar mereka bersenandung

sang langit cuma bilang, maktub
alam semesta serentak mengangguk