Extremely Loud & Incredibly Close : Pendengaran Mr. Black

Saya suka sekali buku ini.

Alih-alih menulis ulasan, saya mau tulis sesuatu yang janggal di buku ini.

He led me to the kitchen table, which was where our kitchen table was, and he sat down and slapped his hand against his knee. “Well!” he said, so loudly that I wanted to cover my ears.

Mari kita lihat cuplikan yang lain,

It was only then that I observed that the key was reaching toward the bed. Because it was relatively heavy, the effect was small. The string pulled incredibly gently at the back of my neck, while the key floated just a tiny bit off my chest. I thought about all the metal buried in Central Park. Was it being pulled, even if just a little, to the bed? Mr. Black closed his hand around the floating key and said, “I haven’t left the apartment in twenty-four years!” “What do you mean?” “Sadly, my boy! I mean exactly what I said! I haven’t left the apartment in twenty-four years! My feet haven’t touched the ground!” “Why not?” “There hasn’t been any reason to!” “What about stuff you need?” “What does someone like me need that he can still get!” “Food. Books. Stuff” “I call in an order for food, and they bring it to me! I call the bookstore for books, the video store for movies! Pens, stationery, cleaning supplies, medicine! I even order my clothes over the phone! …

Kemudian,

“I’ve been reading your lips!” “What?” He pointed at his hearing aids, which I hadn’t notice  before, even though I was trying as hard as I could to notice everything. “I turned them off a long time ago!” “You turned them off?” “A long, long time ago!” “On purpose?” “I thought I’d save the batteries!”…

Mr. Black berbicara dengan suara yang keras karena dia tuli. Dia pembaca bibir. Nah, bagaimana dia memesan makanan dan kebutuhannya via telepon kalau dia tuli? Kecuali dia bisa mengatakan semuanya sekaligus dengan lengkap sehingga tidak perlu ditanya-tanya lagi. Tapi itu sulit dibayangkan.

Buku ini aneh, tapi saya suka. Nanti saya posting tentang hal-hal yang tidak lazim di buku ini. Beberapa hal mestinya membuat buku ini sulit dialihbahasakan. Tapi anehnya, terjemahannya sudah ada.

  • http://www.bukukita.com/Non-Fiksi-Lainnya/Non-Fiksi-Umum/78712-Extremely-Loud-&-Incredibly-Close.html
  • http://sepetaklangitku.blogspot.com/2012/02/extremely-loud-incredibly-close.html

Nyoblos!

Seperti yang saya bilang sebelumnya, pemilu kali ini saya ikut berpartisipasi (terlepas dari saya bangun siang lagi).

Saya pilih yang mana?

Rupanya banyak yang lupa bahwa salah satu azas pemilihan umum adalah rahasia. Pemilih berhak merahasiakan pilihannya. Jadi ketika saya ditanya saya pilih apa dan saya menolak jawab, eh langsung dituduh golput. :)

Begitu kerasnya atmosfer pemilu kali ini, seperti yang kita lihat sekarang. Ribut. Demokrasi di Indonesia memang sudah maju, tapi sebagian besar pemilihnya masih belum bisa bersikap dewasa.

Jadi, saya pilih yang mana?

Eh, kok tanya lagi. :D

Saya dan BlankOn (Video)

“BlankOn Linux memenuhi setiap kebutuhan saya.”

http://blankonlinux.or.id

Musik :
- Ost. Kita Punya Bendera
- Mission Impossible by Lalo Schriffin
from album : Delman Fantasy (IMC Record)
Arranged and played by Jubing Kristianto

http://jubing.net

Dibuat dengan :
Nikon D5000, ffmpeg, avconv, VirtualBox, Audacity, KdenLive dan BlankOn 9.0 Suroboyo.

Terima kasih kepada Pak Jubing Kristianto yang telah mengizinkan musiknya digunakan dalam video ini.

urusan kita

seperti engkau masih berdiri di tikungan jalan itu
sejangkauan mata sejangkauan asa
lekas lenyap begitu aku mengerjap
di atas tengkukku
angkuh sang langit cuma bilang, maktub maktub maktub
matari ketawa mengundang umpat
di bawah sandalku
bumi keras cadas sabar menjilat jasadku menanti jasadmu
di nafasmu nafasku
waktu bergulir berlari berdansa lupa urusan kita

kudengar kadang-kadang kau berang,
tapi tak pernah benar-benar bermaksud menghentikanku, bukan?
sudah kukirim pesan kemarin sore
hanya saja bulir-bulir hujan malu mengungkapkannya
atau kau tak lagi mendengar mereka bersenandung

sang langit cuma bilang, maktub
alam semesta serentak mengangguk

Mini Proyek Arduino #1 : Penggaris Dijital Portabel

Memang portable sih, pakai baterai 9V. Tapi soal praktis, nggak deh. Sudah bongsor, belepotan kabel pula. :D

Penggaris in dibantu oleh modul HC-SR04 — sensor untuk mengukur jarak dengan gelombang ultrasonik — dan LCD kecil.

Btw, main Arduino ternyata seru loh. :D

Sumber kode : https://github.com/herpiko/arduino_penggarisdijital

Terima kasih kepada pak Deni Marswandi yang telah mengenalkan saya ke bidang mikrokontroller dan menghibah-pinjamkan sebuah Arduino Uno plus pernak-perniknya.

 

Arduino kawin sama Raspberry Pi

Jadi ceritanya, saat Raspberry Pi-nya dikembalikan sama mas Deni Marswandi, saya dipinjami Arduino plus bermacam-macam sensor siap pakai. Barangkali sekalian balas budi. Sangkyu! :D

Pikiran saya langsung macam-macam kesana kemari mau bikin apa. Gatal. Tapi tahu nggak sih gimana rasanya ada mainan beginian tapi di sisi lain masih dikejar proyek-proyek yang deadline-nya sudah mepet? Aarrgghh.

Sebelumnya mas Deni membuat bermacam-macam proyek dengan kedua perangkat ini, salah satunya adalah alat pendeteksi kebocoran gas elpiji yang merupakan perpaduan antara Raspberry Pi dan Arduino, dengan bahasa C dan Python dan sempat didemokan langsung di depan saya . Keren bok!

Kominfo Kok Nggak Keren Yak?

Ceritanya video layanan masyarakat milik kantor kan dihosting di Vimeo, sementara Vimeo diblok sama kominfo via Internet positif. Beritanya memang sudah lama, tapi saya baru nyadar kalau video itu pernah saya unggah di Vimeo dan embed di web kantor berasal dari Vimeo. Awalnya saya gak terlalu rusuh saat pemberitaan pemblokiran Vimeo muncul ke permukaan secara saya agak jarang ngakses Vimeo. Tapi begitu saya ngecek web kantor dan nyadar kena efek, eh kok saya langsung marah-marah /yaelah.

Gak usahlah saya bahas mengapa pemblokiran Vimeo itu tidak relevan. Semua sudah tahu. Dan secara saya orangnya agak kaku, ya saya ngikut prosedur aja. “Jika anda merasa situs ini tidak termasuk ke dalam kategori di atas, silahkan menghubungi aduankonten@depkominfo.go.id.”

Baiklah, saya kirimkan surel. Cengo sebentar sambil nyusun kata-kata, terus nulis paragraf pembuka yang sopan dan protesnya disampaikan dengan sopan pula, kemudian tak kirim. Semenit kemudian.

Jengkelnya berapa derajat coba? Ya sudah saya googling pelan-pelan. Baca-baca apa itu Internet Positif dan bagaimana cara kerjanya. Yuk, mari baca-baca di http://trustpositif.kominfo.go.id/

Dan, yey, di sana ada form pengaduan. E tapi…

“saat ini sedang dalam pengembangan”. Yang bener aja? Sudah berapa bulan woi!

Faklah. #nunggupergantiankabinet

Disklaimer : Tidak bermaksud menyinggung teman-teman yang berjuang di Kominfo. Omelan ini ditujukan ke sistem yang gak bener. :D

 

 

Bakar-bakaran : Eksperimen Kompor Kaleng

Di sini saya tidak menjelaskan tata cara pembuatan secara detil melainkan saya hanya menjelaskan konsep rancangan dan hasil ujicobanya. Silakan tata cara pembuatannya dipikirkan sendiri dengan kreatifitas masing-masing. :)

Pernah kebayang gak sih numpahin methanol di lantai? Ya biasa aja. Tapi kalau tumpah bareng api?

Bulan ini saya berencana untuk kembali mendaki Gunung Rinjani, bareng rekan kantor dan teman lama SMA. Jadilah saya sibuk siapin ini itu. Perbaiki tenda, jahit backpack, ngitung-ngitung biaya, yang akhirnya sampai pada fakta, bahwa saya gak punya kompor. Menyesal saya membeli misting dulu, bukannya beli trangia yang sudah lengkap sama kompor. Terpikir sejenak untuk beli kompor gas kecil yang bisa pakai gas botolan, tapi kemudian teringat kompor kaleng bekas yang dibikin sama mas Teguh waktu naik Rinjani mendadak dua tahun lalu. Kompor semacam ini dibuat dari bekas kaleng minuman aluminum yang dipotong kemudian digabung.

Jadi ya saya beli methanol dan coba bakar kompor itu. Hasilnya mengecewakan, satu jam pun air tidak mendidih. Berikut rancangan kompor yang dibikin mas Teguh.

 

Saya baca-baca sana sini, kompor akan bagus kalau ada tekanan suhu yang kuat. Maka saya pun membeli kopi soda kalengan dua sekaligus, nenggak dua-duanya sekaligus karena tidak sabaran kemudian merancang ulang kompor. Saya membuat pemanas terpisah untuk kompor tersebut. Jadi pemanas dibawahnya akan memanaskan kompor utama dan meningkatkan tekanan suhunya. Tidak ada lubang besar di bagian atas, hanya lubang kecil untuk mengisi bahan bakar dan akan ditutup oleh baut saat kompor akan digunakan. Tidak ada kapas di kompor utama, hanya bahan bakar saja. Tidak ada dinding pembatas di dalamnya. Jadi semua tertutup kecuali lubang apinya. Hasilnya luar biasa, ada efek semburan jet, macam kompor gas beneran level maksimum. 10 menit air langsung mendidih. Tapi? Tapi luar biasa boros. Lagian saya mesti ngasih bahan bakar di dua tempat, pemanas dan kompor utama. Kelemahan yang lain? Tentu saja, kompornya menjadi terlalu tinggi dan mudah jatuh. Di sinilah saya menumpahkan bahan bakar dan hampir saja terjadi kebakaran.

 

Bagaimana supaya hemat? Tentu saja sebenarnya konsep dari kompor yang dibikin mas Teguh sudah benar. Api yang terbakar di lubang tengah itu akan memanaskan dindingnya, kemudian seluruh kaleng dan memicu semburan api dari bahan bakar yang sudah panas. Hanya saja,  tidak cukup panas. Jadi saya menginjak-injak kompor-kompor yang sudah saya buat dan coba bikin ulang. Kali ini minum Ademsari Cing Hu dan Larutan Penyegar karena kebetulan saya sariawan. Saya merancang ulang supaya lubang tengah menghasilkan panas yang cukup sambil mengingat-ingat bentuk kompor asli trangia. Kompor asli trangia punya lubang cukup besar di tengahnya, maka saya pun membesarkan lubang tengahnya. Lubang apinya sengaja saya bikin kecil supaya efek semburannya bagus. Hasilnya? Lumayan. Api cukup besar dan ngejet, namun hanya beberapa menit saja. Terlalu lama sampai air mendidih, sekitar setengah jam.

 

Saya masih kecewa kemudian teringat lagi dengan trangia. Kompor asli trangia tidak pakai kapas, maka saya membuang kapasnya, kemudian mencoba membesarkan lubangnya, menjadi berdiameter sekitar setengah sentimeter. Hasilnya? Sempurna. Pemanasan cuma 1 menit, semua lubang langsung menyemburkan api, rata dan rapi. Tidak nge-jet tapi cukup besar. Air mendidih dalam 10 menit. Saya sudah coba nyalakan kipas angin di kamar untuk mensimulasikan cuaca berangin, kompor masih bekerja dengan baik. :D

 

Katanya no pic = hoax. Ya sudah ini gambarnya.

Saya tinggal beli minuman kaleng lagi dan bikin lagi. Ingin coba bikin yang lebih rapi dan apik. Paling tidak sekarang sudah tahu rancangan yang benar.

Kenapa gak pakai kayu bakar aja? Saya gak terlalu suka bakar-bakar kayu. Saya ngikut aturan umum aja : hirup hanya udara segar, ambil hanya foto, tinggalkan hanya jejak. :D