FOSS goes to School, anyone?

Ini tulisan lawas (April 24, 2013) yang diminta saudara Ade Malsasa Akbar untuk di-repost di sini. Pertama kali diposting di group Facebook KPLI NTB. Sebentar lagi apa yang ditulis di sini akan direalisasikan. Semoga lancar. Siapa pun silakan menggunakan konsep ini untuk memperluas gerakan, baik itu KPLI maupun organisasi yang memiliki visi yang sama tentang perangkat lunak sumber terbuka. Selamat membaca!

Saya perhatikan, sudah lama kita tidak melakukan sesuatu ke masyarakat, sejak acara terakhir yang tercatat di blog Kaipang. Kita kan keren, kok kurang aksi. Setelah saya pikir-pikir, saya rasa kita perlu merubah strategi.

Selama ini, acara-acara yang kita bikin, konsepnya selalu sama, kaku, dan tidak tepat guna :
1. Pengenalan apa itu Linux
2. Mempromosikan kelebihan Linux
3. Instalasi bareng.
4. Pemanduan penggunaan beberapa aplikasi umum.
5. Tertib dan selesai, kecuali muncul beberapa masalah-masalah umum pasca instalasi, atau masalah khusus nan menjengkelkan, seperti salah format dan minta tolong data dikembalikan.

Dengan susunan seperti itu, kita pukul rata, semua audien mesti memasang GNU/Linux, padahal mereka baru mengenal beberapa jam saja, dan belum paham benar dan menjiwai, apa itu lisensi, sudut pandang mengenai hak cipta, dan hal-hal mendasar seperti itu. Padahal, pemahaman dasar seperti inilah yang sebenarnya bisa menjadi pegangan kuat. Intinya kita memaksa. Kita bilang sekarang sesi instalasi, audien tidak punya pilihan lain. Tahu sendiri lah…
Kekurangan konsep acara ini, semua peserta mesti punya/bawa laptop. Lupakan PC, siapa juga yang mau repot-repot untuk itu.

Hasilnya (perkiraan saya, pengamatan saya) besok-besok para audien akhirnya hanya berputar-putar di lingkaran : coba-coba, mulai suka, menemui masalah, balik ke windows/belum bisa meninggalkan windows. Terutama, saya sakit hati ketika eks peserta akhirnya bertanya, “Bagaimana cara kita hapus Linux ini?”.
Bahkan di antara kita sendiri, hanya sedikit yang konsisten, setahu saya (mohon ralat kalau salah), hanya pak Ajoeh (juga dengan Windows orinya), Mamik Ishak, dan Rifki temannya si Cepul.

Nah, strategi alternatif yang pertama kali melintas di pikiran saya adalah, menyasar ke sekolah (SMA bukan STM/SMK), tapi dengan konsep acara yang berbeda. Kita dari dulu ngomongin ini tapi gag jadi-jadi. Kemarin pas kopdar sama bang Chi Mot juga sempat dibahas, tapi saya gag terlalu dengar, sibuk sama N900. Intinya, dari dulu kita cuma ngomong doang, no eksien.

Konsep acara berbeda yang saya maksud adalah, “meng-kudeta” jam pelajaran bapak/ibu guru TIK. Saya ingat, di kurikulum SMA, ada 1 bab mengenai ‘Menghargai Hak Kekayaan Intelektual’. Kita bisa ambil bab itu, kita ambil posisi sebagai ‘dosen tamu’. Kita membantu guru TIK di sekolah terkait, dengan syarat, kita bisa menyampaikan materi dengan cara yang lebih baik dan menyenangkan. Kita cuma perlu koordinasi dengan pihak sekolah/guru TIK (saya punya 1 untuk dikontak sebagai percobaan pertama,SMAN 2 Mataram) : mengecek apakah kurikulum mengenai tema itu masih ada, memastikan waktu/tanggal jam pelajaraannya, bersurat resmi ke kepsek (baik setelah kongkalikong dengan guru TIK maupun belum), dan akhirnya kita dapatkan kesempatan bersama anak-anak muda itu.

Hanya 2 pelajaran, 1 jam pelajaran dihitung 45 menit. 90 menit penyampaian materi. 80 % awal waktu hanya untuk penyampaian mengenai hak kekayaan intelektual dan liseni. Gak perlu memojokkan Windows, hanya masalah lisensinya saja. Windows itu keren kok. 20 % waktu terakhir baru mengenalkan alternatif + acara kuis dengan doorprize.
Sekali lagi, fokus/tujuan utama geriliya adalah membuat audien paham bagaimana menghargai karya orang lain (HAKI, kita bisa beri perumpamaan mereka bikin musik keren, terus dibajak), bukan memperkenalkan Linux.

Kita kasih GNU/Linux di bagian akhir, GNU/Linux adalah solusi alternatif, dan memberi tahu mereka mengenai organisasi kita yang keren ini, bagaimana mengontak dan bergabung dengan kita. Dengan cara ini, kita tidak memaksa audien, tapi memberi mereka pilihan. Itu hak mereka.

Urusan mereka menggunakan GNU/Linux atau tidak, itu urusan belakang. Kalau memang ada yang tertarik, kita pasti dikontak. Pada akhirnya kita menyaring orang-orang yang (setidaknya) punya ketertarikan khusus, entah karena memang ingin menghargai lisensi atau memang berjiwa geek, bukan sekedar coba-coba easy come easy go.
Kita cuma perlu 3 hal :

1. Koordinasi dengan pihak sekolah (saya bisa usahakan ambil bagian ini)
2. Pembicara yang baik dan menyenangkan, dan terutama bisa mengatur waktu 90 menit. (Yang Mulia Ketupang perlu diblacklist)
3. Donasi doorprize untuk sesi kuis. (Monggo…)

Doorprize misalnya (usulan Cepul) : kaos tentang tema tulisannya mengarah ke perangkat lunak bebas/lisensi (kemarin cek di baliwae stok habis, mungkin kita bisa pesan atau bikin sendiri di berhandang. (Membagikan livecd GNU/Linux sebagai doorprize kelihatannya terlalu berbahaya, bisa jadi kalau tidak dipandu langsung, mereka bisa membabat habis data mereka sendiri hanya karena salah klik)

Maaf posting panjang-panjang. Bagaimana?

Antara Ponsel Pintar dan Seucap Aksi

Belakangan ini, saya mulai merasakan sebuah pola tertentu yang diterapkan kebanyakan orang Indonesia dalam menanggapi perilaku menyimpang yang mereka temui di tempat publik.

Contoh sederhananya : di dalam sebuah kereta api yang sedang melaju, seorang pria muda duduk di kursi khusus penyandang cacat, sementara di depannya berdiri penyandang cacat yang menggunakan alat bantu tongkat. Pria tersebut seakan tidak peduli dan pura-pura tidak tahu.

Atau

Di kereta api yang sama, seorang wanita muda sehat duduk di kursi khusus ibu hamil, sementara persis di depannya ada seorang ibu hamil yang setengah berharap wanita muda itu mau memberikan kursi penumpang khusus itu untuknya.

Alih-alih menegur langsung pelakunya, ada orang-orang yang lebih suka mengambil gambar dari kejadian tersebut dan menggunggahnya ke sosial media, membiarkan gambar tersebut tersebar dalam jaringan dan menunggu tanggapan/komentar dari seantero warga internet. Yeah, kebanyakan kita gemar mengomentari konten-konten seperti ini. Jika beruntung, nama pelaku diketahui dan dicatut, dan akhirnya berujung aksi bully massal. Tentu saja ini punya sisi positif yaitu menimbulkan efek jera terhadap pelaku.

Tapi aksi mengunggah gambar kejadian tersebut dan membully pelaku tidak membuat penyandang cacat atau ibu hamil tadi memperoleh haknya pada saat itu. Tidak pedulinya kita (dengan tidak mengingatkan/menegur langsung) adalah sama dengan tidak pedulinya pelaku dengan aturan yang ada. Menegur langsung adalah cara yang tepat.

Sayangnya, bukanlah budaya indonesia untuk mengambil sikap ini. Orang indonesia cinta damai, tidak suka cari ribut jika memang bisa dihindari. Saya sendiri mengakui kebiasaan ini dalam diri saya.

Memang sulit buat memulainya, dihinggapi rasa takut akan dampak yang mungkin terjadi (misal berdebat) atau mungkin yang lebih buruk, pelaku bersikap preman. Tapi coba pikir, salah satu kemungkinan yang terjadi adalah, penyandang cacat atau ibu hamil tersebut akhirnya memperoleh haknya.

Pada praktiknya, baru empat kali saya menegur orang lain di tempat publik mengenai perilaku menyimpang, salah satunya berujung debat (perihal larangan merokok di tempat umum). Tidak mudah memang.

Ada yang bilang, “ah songong banget negur-negur orang, diri sendiri belum tentu benar dan suci”. Tetapi sebenarnya, kebiasaan saling mengingatkan akan memantapkan prinsip-prinsip baik yang kita pegang bersama. Lagi pula, bisa jadi pelaku memang kurang peduli dengan orang dengan disabilitas, tetapi tidak/belum tahu bahwa kursi yang didudukinya itu adalah kursi khusus. Yah, siapa tahu?

Mulai sekarang, mari kita ambil sikap. Jika hal-hal seperti ini terjadi di depan anda, kantongi ponsel/perangkat bergerak anda dan lakukan aksi. :)

Bagaimana Kaipang menuju ILC 2014 Sinjai?

Mengatur Ikon Desktop KDE Menjadi Rata Kanan

Ini gara-garanya kangen sama MacOSX. Motivasi ini jangan ditiru, salah satu contoh gagal move on. Langkahnya cukup mudah dan sederhana :

  1. Unlock Widget desktop anda.
  2. Klik kanan pada desktop, kemudian pilih “Default Desktop Settings”
  3. Muncul jendela Dekstop Settings. Jadikan layout desktop anda menjadi “Folder”, kemudian klik tombol Apply.
  4. Dekstop anda akan berisi ikon-ikon dari direktori yang anda pilih. Hanya saja penempatannya rata kiri, aturan bawaan.
  5. Lagi, klik kanan desktop dan pilih “Folder Settings” (nama menu-nya sekarang berubah)
  6. Muncul jendela Dekstop Settings lagi. Pilih tab “Icons”, kemudian ganti opsi Align menjadi Right.
  7. Lihat perubahannya, jika oke, lock kembali desktop anda.

 

Mengapa DuckDuckGo?

Via Wikipedia

Saya pengguna internet yang biasa-biasa saja. Meskipun saya menaruh perhatian pada beberapa masalah internet, tapi sebagian besar saya tidak terlalu acuh. Berita-berita tentang NSA, kebijakan privasi dari para raksasa internet, dan sebagainya. Tapi belakangan saya mulai tidak merasa nyaman.

Beberapa bulan yang lalu saya melihat status seorang teman di jejaring sosial Facebook, yang mengatakan bahwa iklan-iklan yang muncul di situs selain google selalu menyesuaikan dengan hasil pencariannya di google. Biasa aja keleus. Eh, tapi kemudian itu terjadi pada saya. #kualat

Misalnya, kemarin saya sibuk mencari-cari di Google tentang tiket-tiket promo ke Vietnam. Beberapa jam kemudian, laman Facebook saya disisipi iklan-iklan yang berkaitan dengan pemesanan tiket, travel dan semacamnya yang senada. Yah, barangkali saja ini berguna, pengguna dibantu ke target. Tapi pada dasarnya saya merasa tidak nyaman. Entah bagaimana Google membagi informasi saya dengan Facebook dan mungkin dengan perusahaan-perusahaan internet lainnya. Saya hanya ingin menggunakan Google sebagai mesin pencari, bukan supaya data saya dioper kesana kemari sebagai umpan profit.

Google memang punya beberapa masalah privasi yang sampai sekarang belum tuntas.

Jadi bagaimana? Terus saya kena doktrin DuckDuckGo. DuckDuckGo adalah mesin pencari alternatif dengan fokus kebebasan privasi. DuckDuckGo tidak akan merekam apa pun yang kita lakukan dengannya. Sudah hampir dua bulan saya menggunakan DuckDuckGo sebagai mesin pencari utama dan hanya beralih ke Google jika hasil pencarian di DuckDuckGo tidak maksimal atau saya perlu ngeluarin jurus-jurus googling tertentu.

Bagaimana DuckDuckGo? Sejauh ini, saya merasa nyaman dan hasil pencariannya cukup relevan dan memuaskan. Fitur DuckDuckGo tidak kalah dengan Google. Bahkan melalui DuckDuckGo, kita tetap bisa mencari dengan mesin Google tanpa harus terkait dengan akun Google kita dengan memanfaatkan encrypted.google.com (kata kunci pencarian dienkripsi).

Kalau saya peduli masalah privasi, kenapa tidak sekalian berhenti menggunakan produk-produk Google dan lainnya yang bermasalah? Yah, mungkin ini terlihat seperti “menutup wajah dengan plastik transparan dan pura-pura tidak melihat apa pun”. Tapi mau bagaimana lagi? Saya kan cuma pengguna internet yang biasa-biasa saja. Setidaknya saya menyamankan diri dulu.

Update : saat pertama kali beradaptasi, mungkin anda merasa nama domain duckduckgo.com tidak praktis untuk diketik. Silakan coba domain ddg.gg untuk domain pintas ke duckduckgo.com

1984 dan 1Q84

Saya tertarik membeli 1984-nya George Orwell yang diterjemahkan oleh Landung Simatupang karena buku ini (juga tentang Bung Besar) beberapa kali disinggung di 1Q84. Jika Murakami terinspirasi dari George Orwell, apa yang menarik di buku itu?

Setelah selesai membaca, saya menemukan 1984 sebagai bacaan berat yang jauh lebih baik dari 1Q84 (terjemahannya juga oke banget). Apa yang ingin disampaikan Orwell itu, sedikit demi sedikit dapat dipahami pembaca, meskipun (saya) musti pakai merinding-merinding bacanya. Berkebalikan dengan 1Q84 (buku ini sangat tebal, edisi Bahasa Indonesia-nya dipecah menjadi 3 buku), sampai sekarang saya belum paham benar apa maksud buku ini. Satu-satunya keberhasilan Murakami di 1Q84 adalah membuat saya hanyut dengan ceritanya yang detail dan bertele-tele, sampai saya lupa dengan inti dari keseluruhan kisah.

Satu-satunya kemiripan yang saya temukan di kedua buku ini adalah, Winston dan Aomame sama-sama ragu bahwa tahun itu adalah tahun 1984. Selebihnya, wah, saya tidak dapat menemukan benang merah.

1984 cukup berharga buat dikoleksi. 1Q84? Yah, kalau anda punya cukup waktu.

Extremely Loud & Incredibly Close : Pendengaran Mr. Black

Saya suka sekali buku ini.

Alih-alih menulis ulasan, saya mau tulis sesuatu yang janggal di buku ini.

He led me to the kitchen table, which was where our kitchen table was, and he sat down and slapped his hand against his knee. “Well!” he said, so loudly that I wanted to cover my ears.

Mari kita lihat cuplikan yang lain,

It was only then that I observed that the key was reaching toward the bed. Because it was relatively heavy, the effect was small. The string pulled incredibly gently at the back of my neck, while the key floated just a tiny bit off my chest. I thought about all the metal buried in Central Park. Was it being pulled, even if just a little, to the bed? Mr. Black closed his hand around the floating key and said, “I haven’t left the apartment in twenty-four years!” “What do you mean?” “Sadly, my boy! I mean exactly what I said! I haven’t left the apartment in twenty-four years! My feet haven’t touched the ground!” “Why not?” “There hasn’t been any reason to!” “What about stuff you need?” “What does someone like me need that he can still get!” “Food. Books. Stuff” “I call in an order for food, and they bring it to me! I call the bookstore for books, the video store for movies! Pens, stationery, cleaning supplies, medicine! I even order my clothes over the phone! …

Kemudian,

“I’ve been reading your lips!” “What?” He pointed at his hearing aids, which I hadn’t notice  before, even though I was trying as hard as I could to notice everything. “I turned them off a long time ago!” “You turned them off?” “A long, long time ago!” “On purpose?” “I thought I’d save the batteries!”…

Mr. Black berbicara dengan suara yang keras karena dia tuli. Dia pembaca bibir. Nah, bagaimana dia memesan makanan dan kebutuhannya via telepon kalau dia tuli? Kecuali dia bisa mengatakan semuanya sekaligus dengan lengkap sehingga tidak perlu ditanya-tanya lagi. Tapi itu sulit dibayangkan.

Buku ini aneh, tapi saya suka. Nanti saya posting tentang hal-hal yang tidak lazim di buku ini. Beberapa hal mestinya membuat buku ini sulit dialihbahasakan. Tapi anehnya, terjemahannya sudah ada.

  • http://www.bukukita.com/Non-Fiksi-Lainnya/Non-Fiksi-Umum/78712-Extremely-Loud-&-Incredibly-Close.html
  • http://sepetaklangitku.blogspot.com/2012/02/extremely-loud-incredibly-close.html

Nyoblos!

Seperti yang saya bilang sebelumnya, pemilu kali ini saya ikut berpartisipasi (terlepas dari saya bangun siang lagi).

Saya pilih yang mana?

Rupanya banyak yang lupa bahwa salah satu azas pemilihan umum adalah rahasia. Pemilih berhak merahasiakan pilihannya. Jadi ketika saya ditanya saya pilih apa dan saya menolak jawab, eh langsung dituduh golput. :)

Begitu kerasnya atmosfer pemilu kali ini, seperti yang kita lihat sekarang. Ribut. Demokrasi di Indonesia memang sudah maju, tapi sebagian besar pemilihnya masih belum bisa bersikap dewasa.

Jadi, saya pilih yang mana?

Eh, kok tanya lagi. :D

Saya dan BlankOn (Video)

http://www.youtube.com/watch?v=6MEdGSVehQo

“BlankOn Linux memenuhi setiap kebutuhan saya.”

http://blankonlinux.or.id

Musik :
- Ost. Kita Punya Bendera
- Mission Impossible by Lalo Schriffin
from album : Delman Fantasy (IMC Record)
Arranged and played by Jubing Kristianto

http://jubing.net

Dibuat dengan :
Nikon D5000, ffmpeg, avconv, VirtualBox, Audacity, KdenLive dan BlankOn 9.0 Suroboyo.

Terima kasih kepada Pak Jubing Kristianto yang telah mengizinkan musiknya digunakan dalam video ini.

urusan kita

seperti engkau masih berdiri di tikungan jalan itu
sejangkauan mata sejangkauan asa
lekas lenyap begitu aku mengerjap
di atas tengkukku
angkuh sang langit cuma bilang, maktub maktub maktub
matari ketawa mengundang umpat
di bawah sandalku
bumi keras cadas sabar menjilat jasadku menanti jasadmu
di nafasmu nafasku
waktu bergulir berlari berdansa lupa urusan kita

kudengar kadang-kadang kau berang,
tapi tak pernah benar-benar bermaksud menghentikanku, bukan?
sudah kukirim pesan kemarin sore
hanya saja bulir-bulir hujan malu mengungkapkannya
atau kau tak lagi mendengar mereka bersenandung

sang langit cuma bilang, maktub
alam semesta serentak mengangguk

© 2014 /dev/null

Theme by Anders NorenUp ↑