Quote Favorit Saya di Digital Fortress – Dan Brown

“Quis custodiet ipsos custodes”

Mengapa Saya Suka Psikologi dan Membenci Psikolog

Bukan bidang ilmu yang saya tekuni, hanya saja saya senang membaca-baca tentang psikologi. Penyakit-penyakit psikologi begitu menarik.

Namun saya selalu panik bila bertemu psikolog, karena mereka seolah-olah terlalu banyak tahu tentang diri saya. Rasa-rasanya mereka sulit dikelabui. Ini rasanya seperti pelanggaran privasi kan? #loh

Memigrasikan Database Eplaq ke GNU/Linux

Perhatian : Eplaq secara resmi dirilis untuk sistem operasi Windows. Meskipun secara teknis hal ini sama saja, penulis tidak bertanggung jawab terhadap kesalahan yang mungkin terjadi.

 

Yak, ini kelanjutan dari catatan yang ini.

Jadi ceritanya banyak keluhan sejak server tersebut menggunakan virtualisasi. Boro-boro Windows Server, kami pakai Windows 7 bajakan yang notabene untuk desktop. Maksa banget ya? Masalah utamanya bagi saya adalah, Windows tidak nyaman untuk di-remote dari jarak jauh. Secara natif, tidak ada SSH, SCP, dan utilitas khas Unix lainnya. Sebenarnya masih banyak alasan-alasan lain mengapa saya ngebet ke GNU/Linux. Tapi mari langsung saja.

Eqvet lebih mudah dimigrasikan ke GNU/Linux karena password root databasenya sudah diketahui. Sementara Eplaq tidak demikian. User dan password databasenya diproteksi sehingga kita tidak mungkin mengekspor dan mengimpor database dengan cara normal.

Tapi kalau saya tetap ngotot pindahin ke GNU/Linux?

Pakai cara kasar. Bawa saja semua berkas SQL-nya mentah-mentah. Eplaq versi sekarang (per tanggal catatan ini ditulis) menggunakan MySQL versi 4.1. Lawas banget, tidak tersedia di distribusi yang umum sekarang. Jadi silakan siapkan distribusi apa saja, hapus semua paket yang berkaitan dengan X. Di sini saya menggunakan Ubuntu 12.04.

$ sudo apt-get remove xserver-xorg-core

 

Unduh MySQL 4.12 dan kompail. Saya memasangnya di /usr/local/mysql, jadi :

wget https://downloads.mariadb.com/archives/mysql-4.1/mysql-4.1.22.tar.gz
tar -xvf mysql*
cd mysql*
./configure --prefix=/usr/local/mysql/

 

Di saya, ada galat berikut saat configure :

./configure --prefix=/usr/local/mysql/

.

.

.

No curses/termcap library found

 

Pasang saja paket libncurses5-dev dari lumbung resmi. Berikutnya, atur-atur semuanya sampai MySQL-nya siap pakai (termasuk passowrd root dan segala macam). Setelah MySQL-nya oke, stop service-nya, kemudian salin berkas MySQL dari Eplaq yang sekarang (Windows). Mestinya terletak di C:\Program Files\MySQL\MySQL-versi\data\. Salin semua isi direktori data tersebut ke /usr/local/mysql/var/

Setelah disalin, perbaiki permissionnya :

$ sudo chown -R mysql:mysql /usr/local/mysql/var/

 

Jalankan lagi service MySQL-nya. Yey, sekarang database Eplaq sudah up di GNU/Linux (meskipun tidak bisa login).

Mungkin di saat ngatur-ngatur pertama kali MySQL-nya, anda sempat menyalin berkas my.cnf ke /etc/ atau menggunakan file konfigurasi bawaan sebelumnya (jika sebelumnya sempat memasang MySQL dari lumbung resmi, bukan versi 4.1). Pilih salah satunya, hapus yang lain, kemudian sunting. Ada baris yang penting untuk ditambahkan di sini :

Ini berkaitan dengan case sensitive di nama tabel. Eplaq dikembangkan di Windows, mungkin pengembangnya tidak terlalu peduli dengan perbedaan huruf besar kecil antara query di kode dengan nama tabel sebenarnya di database. Tapi saat dibawa ke Unix-like, hal ini tidak bisa ditoleransi.

lower_case_table_names=1

 

Meskipun kita tidak bisa masuk ke MySQL-nya (karena user passwordnya diproteksi dari pusat), untungnya databasenya sudah dikonfigurasi supaya bisa di-remote dari mana saja.

skip-name-resolve

 

Baris di atas penting untuk masalah performa, silakan baca-baca di sini : http://dev.mysql.com/doc/refman/5.0/en/host-cache.html

Pointing

Sekarang mari kita pindah ke Windows sebentar (client / PC Pelayanan). Pada aplikasi Eplaq, arahkan databasenya ke IP server tersebut. Voila! :D

Memperbarui Database dari Pusat

Kendala yang mungkin timbul setelah dimigrasikan ke GNU/Linux adalah update database dari pusat. Selama ini, updatenya dirilis dengan berkas executable (*.exe) yang akan menyalin beberapa berkas sql secara mentah (*.frm) ke tempat semestinya.

Jadi berikut prosedur yang mungkin dilakukan untuk menganggulangi kendala ini :

0. Update dirilis

1. Stop service MySQL di GNU/Linux, salin berkas mentah sql ke Windows virtual.

2. Jalankan update di Windows virtual

3. salin berkas mentah sql di Windows virtual ke GNU/Linux.

4. Jalankan service MySQL di GNU/Linux

5. Selesai. Repot ya?

Jadi saya sengaja tidak menghapus Windows virtualnya agar bisa digunakan sewaktu-waktu.

 

Update :

Eplaq versi sekarang sudah bisa mengupdate database langsung dari aplikasi, langsung memodifikasi database. Tidak lagi menggunakan berkas executable terpisah. Eh, tapi nggak tau deh nantinya bagaimana. :P

Jangan Dipuji, Dibenci Saja

Banyak teman-teman saya yang suka memuji-muji secara berlebihan dan tidak mengambil hikmah dari mengapa dia akhirnya memuji demikian.

Salah tingkah saat dipuji itu sungguh tidak enak dan saya sama sekali tidak menyukainya, terlebih ditambah kesadaran bahwa saya belum ada apa-apanya dibanding beberapa orang yang saya kenal.

Jika saya mengenal dekat orang yang dalam hal-hal tertentu lebih cakap dari pada saya, mencapai lebih banyak prestasi dari pada saya, lebih maju dari saya, maka saya akan berusaha membencinya. Saya benci dikalahkan. Saya sukar ngalah. Maka saya jadikan dia rival, dalam artian yang positif. Paling banter saya hanya bilang, “Wogh, keren!”, tapi kemudian “Sialan!”.

Jika dia membahas sesuatu yang tidak saya mengerti dan membuat saya merasa bodoh, saya juga akan membencinya dan berusaha mencapai tingkat pengetahuan yang sama sehingga akhirnya saya mengerti apa yang dibahas itu.

Pada akhirnya, saya membenci terlalu banyak orang, dan hidup saya seperti jalan setapak yang panjang sekali dimana saya terus-menerus berlari seolah dikejar anjing.

Woosaaaaah!

 

Smaug at its best achievement of overheating

118 derajat celcius, woohoooooooooo!

Saya mengakui bahwa rata-rata produk komputer dari HP (bukan Compaq ya) cukup bandel. Tapi mengenai rancangan, itu hal yang berbeda. HP Pavilion dm3 milik saya adalah salah satu produk cacat dari HP yang diakui secara luas. Secara tampilan, komputer ini menarik sekali dan berasa pegang Macbook. Serba logam. Tapi tahu nggak sih? Fungsi case logam ini bukan supaya elegan, tapi inilah heatsink dari prosesor laptop ini.

Yoi. Saya nggak salah tulis. Heatsink yang nempel ke procesor itu diangin-angini sama kipas kecil yang tidak punya sumber udara. Jadi sama sekali tidak berguna. Di bawah case logam ini, ada banyak ruang udara kosong yang bagus sekali tempat bersemayam udara panas, yang kemudian menyalurkan panasnya ke case, atas dan bawah. Rasakanlah mengetik di atas bara 50 derajat celcius. Dipangku sama panasnya.

Kalau benar itu isu tentang memangku laptop menyebabkan mandul karena radiasi panasnya, berarti saya sudah tidak bisa diharapkan lagi. #eh

Jadi kemarin saya terpaksa melubangi bagian bawah case untuk ventilasi tambahan, membuat cacat produk cacat ini. Dan hasilnya hari ini adalah..

Yak, sama saja.

Halo, ada yang jual Macbook bekas?

Silicon Valley Season 1 : Github & Reverse Engineering

Kalau ada di Github, ngapain repot-repot reverse-engineering? Meski tidak menutup kemungkinan menyimpan binary atau private repo di Github, tetep aja kedengaran aneh. :P

FOSS goes to School, anyone?

Ini tulisan lawas (April 24, 2013) yang diminta saudara Ade Malsasa Akbar untuk di-repost di sini. Pertama kali diposting di group Facebook KPLI NTB. Sebentar lagi apa yang ditulis di sini akan direalisasikan. Semoga lancar. Siapa pun silakan menggunakan konsep ini untuk memperluas gerakan, baik itu KPLI maupun organisasi yang memiliki visi yang sama tentang perangkat lunak sumber terbuka. Selamat membaca!

Saya perhatikan, sudah lama kita tidak melakukan sesuatu ke masyarakat, sejak acara terakhir yang tercatat di blog Kaipang. Kita kan keren, kok kurang aksi. Setelah saya pikir-pikir, saya rasa kita perlu merubah strategi.

Selama ini, acara-acara yang kita bikin, konsepnya selalu sama, kaku, dan tidak tepat guna :
1. Pengenalan apa itu Linux
2. Mempromosikan kelebihan Linux
3. Instalasi bareng.
4. Pemanduan penggunaan beberapa aplikasi umum.
5. Tertib dan selesai, kecuali muncul beberapa masalah-masalah umum pasca instalasi, atau masalah khusus nan menjengkelkan, seperti salah format dan minta tolong data dikembalikan.

Dengan susunan seperti itu, kita pukul rata, semua audien mesti memasang GNU/Linux, padahal mereka baru mengenal beberapa jam saja, dan belum paham benar dan menjiwai, apa itu lisensi, sudut pandang mengenai hak cipta, dan hal-hal mendasar seperti itu. Padahal, pemahaman dasar seperti inilah yang sebenarnya bisa menjadi pegangan kuat. Intinya kita memaksa. Kita bilang sekarang sesi instalasi, audien tidak punya pilihan lain. Tahu sendiri lah…
Kekurangan konsep acara ini, semua peserta mesti punya/bawa laptop. Lupakan PC, siapa juga yang mau repot-repot untuk itu.

Hasilnya (perkiraan saya, pengamatan saya) besok-besok para audien akhirnya hanya berputar-putar di lingkaran : coba-coba, mulai suka, menemui masalah, balik ke windows/belum bisa meninggalkan windows. Terutama, saya sakit hati ketika eks peserta akhirnya bertanya, “Bagaimana cara kita hapus Linux ini?”.
Bahkan di antara kita sendiri, hanya sedikit yang konsisten, setahu saya (mohon ralat kalau salah), hanya pak Ajoeh (juga dengan Windows orinya), Mamik Ishak, dan Rifki temannya si Cepul.

Nah, strategi alternatif yang pertama kali melintas di pikiran saya adalah, menyasar ke sekolah (SMA bukan STM/SMK), tapi dengan konsep acara yang berbeda. Kita dari dulu ngomongin ini tapi gag jadi-jadi. Kemarin pas kopdar sama bang Chi Mot juga sempat dibahas, tapi saya gag terlalu dengar, sibuk sama N900. Intinya, dari dulu kita cuma ngomong doang, no eksien.

Konsep acara berbeda yang saya maksud adalah, “meng-kudeta” jam pelajaran bapak/ibu guru TIK. Saya ingat, di kurikulum SMA, ada 1 bab mengenai ‘Menghargai Hak Kekayaan Intelektual’. Kita bisa ambil bab itu, kita ambil posisi sebagai ‘dosen tamu’. Kita membantu guru TIK di sekolah terkait, dengan syarat, kita bisa menyampaikan materi dengan cara yang lebih baik dan menyenangkan. Kita cuma perlu koordinasi dengan pihak sekolah/guru TIK (saya punya 1 untuk dikontak sebagai percobaan pertama,SMAN 2 Mataram) : mengecek apakah kurikulum mengenai tema itu masih ada, memastikan waktu/tanggal jam pelajaraannya, bersurat resmi ke kepsek (baik setelah kongkalikong dengan guru TIK maupun belum), dan akhirnya kita dapatkan kesempatan bersama anak-anak muda itu.

Hanya 2 pelajaran, 1 jam pelajaran dihitung 45 menit. 90 menit penyampaian materi. 80 % awal waktu hanya untuk penyampaian mengenai hak kekayaan intelektual dan liseni. Gak perlu memojokkan Windows, hanya masalah lisensinya saja. Windows itu keren kok. 20 % waktu terakhir baru mengenalkan alternatif + acara kuis dengan doorprize.
Sekali lagi, fokus/tujuan utama geriliya adalah membuat audien paham bagaimana menghargai karya orang lain (HAKI, kita bisa beri perumpamaan mereka bikin musik keren, terus dibajak), bukan memperkenalkan Linux.

Kita kasih GNU/Linux di bagian akhir, GNU/Linux adalah solusi alternatif, dan memberi tahu mereka mengenai organisasi kita yang keren ini, bagaimana mengontak dan bergabung dengan kita. Dengan cara ini, kita tidak memaksa audien, tapi memberi mereka pilihan. Itu hak mereka.

Urusan mereka menggunakan GNU/Linux atau tidak, itu urusan belakang. Kalau memang ada yang tertarik, kita pasti dikontak. Pada akhirnya kita menyaring orang-orang yang (setidaknya) punya ketertarikan khusus, entah karena memang ingin menghargai lisensi atau memang berjiwa geek, bukan sekedar coba-coba easy come easy go.
Kita cuma perlu 3 hal :

1. Koordinasi dengan pihak sekolah (saya bisa usahakan ambil bagian ini)
2. Pembicara yang baik dan menyenangkan, dan terutama bisa mengatur waktu 90 menit. (Yang Mulia Ketupang perlu diblacklist)
3. Donasi doorprize untuk sesi kuis. (Monggo…)

Doorprize misalnya (usulan Cepul) : kaos tentang tema tulisannya mengarah ke perangkat lunak bebas/lisensi (kemarin cek di baliwae stok habis, mungkin kita bisa pesan atau bikin sendiri di berhandang. (Membagikan livecd GNU/Linux sebagai doorprize kelihatannya terlalu berbahaya, bisa jadi kalau tidak dipandu langsung, mereka bisa membabat habis data mereka sendiri hanya karena salah klik)

Maaf posting panjang-panjang. Bagaimana?

Antara Ponsel Pintar dan Seucap Aksi

Belakangan ini, saya mulai merasakan sebuah pola tertentu yang diterapkan kebanyakan orang Indonesia dalam menanggapi perilaku menyimpang yang mereka temui di tempat publik.

Contoh sederhananya : di dalam sebuah kereta api yang sedang melaju, seorang pria muda duduk di kursi khusus penyandang cacat, sementara di depannya berdiri penyandang cacat yang menggunakan alat bantu tongkat. Pria tersebut seakan tidak peduli dan pura-pura tidak tahu.

Atau

Di kereta api yang sama, seorang wanita muda sehat duduk di kursi khusus ibu hamil, sementara persis di depannya ada seorang ibu hamil yang setengah berharap wanita muda itu mau memberikan kursi penumpang khusus itu untuknya.

Alih-alih menegur langsung pelakunya, ada orang-orang yang lebih suka mengambil gambar dari kejadian tersebut dan menggunggahnya ke sosial media, membiarkan gambar tersebut tersebar dalam jaringan dan menunggu tanggapan/komentar dari seantero warga internet. Yeah, kebanyakan kita gemar mengomentari konten-konten seperti ini. Jika beruntung, nama pelaku diketahui dan dicatut, dan akhirnya berujung aksi bully massal. Tentu saja ini punya sisi positif yaitu menimbulkan efek jera terhadap pelaku.

Tapi aksi mengunggah gambar kejadian tersebut dan membully pelaku tidak membuat penyandang cacat atau ibu hamil tadi memperoleh haknya pada saat itu. Tidak pedulinya kita (dengan tidak mengingatkan/menegur langsung) adalah sama dengan tidak pedulinya pelaku dengan aturan yang ada. Menegur langsung adalah cara yang tepat.

Sayangnya, bukanlah budaya indonesia untuk mengambil sikap ini. Orang indonesia cinta damai, tidak suka cari ribut jika memang bisa dihindari. Saya sendiri mengakui kebiasaan ini dalam diri saya.

Memang sulit buat memulainya, dihinggapi rasa takut akan dampak yang mungkin terjadi (misal berdebat) atau mungkin yang lebih buruk, pelaku bersikap preman. Tapi coba pikir, salah satu kemungkinan yang terjadi adalah, penyandang cacat atau ibu hamil tersebut akhirnya memperoleh haknya.

Pada praktiknya, baru empat kali saya menegur orang lain di tempat publik mengenai perilaku menyimpang, salah satunya berujung debat (perihal larangan merokok di tempat umum). Tidak mudah memang.

Ada yang bilang, “ah songong banget negur-negur orang, diri sendiri belum tentu benar dan suci”. Tetapi sebenarnya, kebiasaan saling mengingatkan akan memantapkan prinsip-prinsip baik yang kita pegang bersama. Lagi pula, bisa jadi pelaku memang kurang peduli dengan orang dengan disabilitas, tetapi tidak/belum tahu bahwa kursi yang didudukinya itu adalah kursi khusus. Yah, siapa tahu?

Mulai sekarang, mari kita ambil sikap. Jika hal-hal seperti ini terjadi di depan anda, kantongi ponsel/perangkat bergerak anda dan lakukan aksi. :)

Bagaimana Kaipang menuju ILC 2014 Sinjai?

Mengatur Ikon Desktop KDE Menjadi Rata Kanan

Ini gara-garanya kangen sama MacOSX. Motivasi ini jangan ditiru, salah satu contoh gagal move on. Langkahnya cukup mudah dan sederhana :

  1. Unlock Widget desktop anda.
  2. Klik kanan pada desktop, kemudian pilih “Default Desktop Settings”
  3. Muncul jendela Dekstop Settings. Jadikan layout desktop anda menjadi “Folder”, kemudian klik tombol Apply.
  4. Dekstop anda akan berisi ikon-ikon dari direktori yang anda pilih. Hanya saja penempatannya rata kiri, aturan bawaan.
  5. Lagi, klik kanan desktop dan pilih “Folder Settings” (nama menu-nya sekarang berubah)
  6. Muncul jendela Dekstop Settings lagi. Pilih tab “Icons”, kemudian ganti opsi Align menjadi Right.
  7. Lihat perubahannya, jika oke, lock kembali desktop anda.

 

© 2014 /dev/null

Theme by Anders NorenUp ↑